Tradisi Unik yang Nyaris Sirna – Nurul Ulmi Mansur

Tepat tanggal 31 Januari 2018 terjadi gerhana bulan. Gerhana bulan ini menurut BMKG merupakan gerhana bulan yang bernama “Super Blue Blood Moon”. Dikatakan Super Blue Blood Moon karena cahaya yang dipancarkan berwarna merah atau jingga. Fenomena ini sangatlah langka terjadi yaitu dalam kurun waktu sekitar 152 tahun sekali.

Gerhana bulan merupakan fenomena yang terjadi dimana posisi matahari, bumi dan bulan purnama berada di titik garis lurus. Bulan akan tertutup oleh bayang-bayang bumi dan bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus, sehingga cahaya bulan akan tampak samar. Walaupun bulan tertutupi oleh bayang-bayang bumi, cahaya yang dihasilkan oleh bulan tetap ada. Hal ini disebabkan oleh atmosfer bumi memancarkan gelombang cahaya dari matahari. 
Cerita-cerita yang beredar di kalangan masyarakat Indonesia mengenai gerhana bulan sangatlah beragam. Di tanah Jawa, orang-orang mengatakan fenomena ini merupakan ulah buto alias raksasa yang memakan bulan, sehingga cahaya bulan terlihat samar bahkan tidak nampak.
Lain halnya di tanah Bugis, orang-orang Bugis menyebut fenomena ini dengan nama “yemme’ i ketengnge” (bulan yang tertelan). Biasanya, ketika terjadi gerhana bulan, para warga akan melakukan tradisi “Mappadendang”. Mappadendang merupakan kegiatan yang dilakukan dengan memukul “palungeng” alias lesung  dengan “alu” alias pemukul lesung.Dari kegiatan ini, akan dihasilkan irama beraturan dari alu dan palungeng tersebut. Hal ini dilakukan agar bulan kembali bersinar cerah, seperti bulan purnama pada umumnya. Pasalnya, mitos yang beredar sejak dahulu yaitu, ada seekor naga yang menelan bulan sehingga cahaya bulan yang biasanya nampak cerah ketika bulan purnama, kini tidak begitu nampak dan akan tergantikan oleh bayang-bayang sinar matahari. Dengan memukul palungeng, si naga akan memuntahkan kembali bulan yang ia telan. Dengan begitu, bulan akan kembali bersinar. Umumnya, orang-orang yang melakukan tradis “Mappadendang” menggunakan pakaian adat “baju tokko”.
Bukan hanya itu, mitos lain yang menjadi tradisi di kalangan masyarakat Bugis dahulu khususnya bagi para kaum Hawa ialah mandi dengan menggunakan daun buah ceremai atau di Bugis biasa disebut dengan buah “ceremele”. Buah ini adalah buah yang terasa masam. Sehingga ketika kita memakan buah ini, karena saking masamnya, liur kita akan keluar. Nah, tujuan dengan dipakainya daun buah ini untuk mandi agar perempuan yang belum menikah atau janda sekali pun yang ingin menikah lagi akan segera didekatkan jodohnya. Seperti arti dari makna yang terkandung dalam rasa buah ini, “ngiler” membuat para kaum adam akan ngiler saking tertariknya terhadap kaum Hawa ketika berada di dekatnya.
Selain daun buah cermai “ceremele”. Daun picu-picu juga dipercayai bisa mendatangkan jodoh bagi kaum hawa. Konon, daun ini sering digunakan oleh kaum hawa zaman old untuk luluran. Dari arti kata picu berderivasi menjadi maddapicu atau maddapisu yang artinya “ngesot”. Jika mandi menggunakan daun ini ketika terjadi gerhana bulan, maka para lelaki akan tertarik dan mendekat  dengan cara “ngesot” pada kaum wanita. Cara ini menunjukkan betapa hormatnya seorang lelaki kepada wanita sehingga ia mendekati wanita dengan cara seperti itu.   
Sayangnya, tradisi di atas tidak begitu diketahui oleh kids jaman now. Mereka lebih mengenal Mappadendang hanya cocok dipentaskan dalam penyambutan tamu atau pada saat pesta panen saja, karena dominannya orang-orang memang sering menggelar Mappadendang pada acara tersebut. Sehingga, tradisi unik seperti ini nyaris lenyap ditelan zaman.
Oleh karena itu, tidak ada salahnya melakukan Mappadendang ketika terjadi gerhana bulan. Sekedar untuk meramaikan dan menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara.
Pegiat Komunitas Penulis Semesta Pena dan Debater Al Motayat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga
Bagikan Dengan Cinta !
Esai
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?