16:30, Parepare di waktu sore semakin memanjakan mata Anwar, bagaimana tidak, hilir mudik mahasiswi-mahasiswi ITS (Institut Tarik Selimut) datang ke warung Tante Ati untuk mengisi perut setelah berjam-jam mengisi kepala di kampus (yang entah benar-benar terisi atau tidak). Saat itu (seperti biasanya) Anwar dan Udding tengah nongki ganteng di warung Tante Ati, warung yang dulunya berada di pesisir Cappae tetapi harus direlokasi akibat reklamasi pesisir demi penyediaan lahan bagi warung-warung sekaliber Setarbak dan mekdonal.

Terlihat Anwar dan Udding tengah bermain catur dan sesekali mengobrol ringan tentang neoliberalisme, kabar hantu komunisme yang gentayanga di kelurahan nasionalis atau wacana penyulaman politik antara KIH dan KMP, yah demikianlah Anwar dan Udding, hal demikian menjadi obrolan warung kopi yang bisa dibahas ringan seringan dompet mereka.

Dua gelas kopi hitam sachet Kapal Air seduhan manis ala Tante Ati tetap memanjakan dua jiwa tangguh itu. Bagi Anwar dan Udding, kopi Kapal Air seduhan Tante Ati tak kalah nikmat dari seduhan barista-barista kafe yang sudah semakin menjamur di kota Parepare. Selanjutnya, alasan kedua karena Anwar dan Udding menjunjung tinggi eksistensi warung kopi yang bervisi dan berkarakter kerakyatan, seperti warung Tante Ati tentunya.

Ketidakfokusan Anwar karena sesekali mengecek smartphone nya membuat Udding kesal, “ededeh… nanti pi mubalas chatnya odo-odomu !” tegur Udding. “bukan odo-odo ku ini, baca ka komen-komen di Grup ACP” jawab Anwar meluruskan. Udding menghela nafas setelahnya menyeruput kopi yang sekali tegukan lagi bersisa ampas, “malas ma saya liat-liat di grup ka politik terus mi na bahas” ujar Udding dengan meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. “tapi bukan berarti apolitis ki toh ?!” Tanya Anwar yang seolah menantang Udding untuk memulai ber-khotbah.

“Anwar !!! matikan dulu itu kompor ee !” Teriak Tante Ati dari dapur. “Siap Tantecu !” balas Anwar sebagai mana seorang ponakan teladan. Setelah menunaikan perintah dari sang tante, Anwar dan Udding kembali melanjutkan permainan dan obrolan mereka.“kayaknya mulai mi ini masuk tahun-tahun politik Om Udding”, ucap lembut Anwar sembari memindahkan rajanya yang sudah ketiga kalinya terancam kolaborasi kuda dan benteng milik Udding. “setiap tahun kapang tahun politik Anwar ! apa pun isunya, endingnya adalah persoalan kepentingan berebut kursi” sergap Udding yang seolah membuat Anwar tercengang badai, bagaimana tidak, seorang petani bisa-bisanya punya analisis kritis tajam-bak pisau dapur milik Tante Ati-keluar dari mulutnya, dan secara tidak langsung menampar kredibilitas seorang mahasiswa ilmu pemerintahan semester akhir, seperti dirinya.

Belum selesai Anwar dibuat kaget oleh jawaban kritis, Udding kembali melanjut khotbahnya, “sudah menjadi kultur politik di Indonesia, bahwasanya menjelang perayaan politik, pertaruhan sudah lama dimulai oleh para tim sukses masing-masing jagoan, masalahnya ialah terkadang pertaruhan itu diwarnai oleh spekulasi dari yang soft sampai pada spekulasi jitu yang secara terang-terangan menusuk tepat di jantung lawannya, seperti yang diungkap dalam tulisan Akbar T Arief minggu lalu di Ngemper!, serang demi serang saling berbenturan, argumentasi demi argumentasi saling dilontarkan sebagai pembenaran dan penopang politik” mengehla nafas sejenak, dan Udding kembali melanjutkan, “jaman dulu tim sukses para kandidat berkreatifitas sedemikian rupa demi memenangkan jagoannya, tapi di jaman sekarang serasa tak perlu lagi, cukup menggunakan social media seperti facebook untuk berkampanye dan saling berargumen, bahkan tidak jarang saling menyerang dengan menggunakan isu privasi si jagoan misal menjelek-jelekkan lawan, mengumbar kebencian dengan topangan data yang belum terbukti validasinya, dll. akhirnya kultur Indonesianis dan masyarakat adat Bugis pun seolah terkikis olehnya, entah apa yang dipertaruhkan para tim sukses mengapa dengan sesemangat itu dan beringas itu dalam proses pemenangan jagoan politiknya” anwar memotong Khotbah dengan senyuman sini “itu mi di bilang tim sukses jaman now” sergap Anwar.

TULISAN AKBAR T ARIEF : Jangan Nakal Jika Mau Jadi Kepala Daerah


Dari sergapan kalimat dari Anwar, kiranya Udding kembali melanjut berkhotbah, nyatanya tidak ! ia memilih untuk kembali menyeruput kopi sebagai tegukan terakhir. Anwar dan Udding kembali melanjutkan permainan catur yang kini tetap dalam tahapan penyerangan terhadap pertahan Anwar.

Sekian obrolan Anabel kali ini, nantikan cerita Anwar, Udding dan Tante Ati selanjutnya.


Redaktur.

Catatan : Obrolan Anabel (Analisa Gembel) adalah konten Ngemper! yang diisi oleh tulisan-tulisan dari para redaksi (khusus), tetapi tidak kemudian menutup kontribusi tulisan dari pembaca. Obrolan Anabel berisi tulisan-tulisan singkat dan ringan, penulisannya di buat seperti cerpen atau esai berisi beberapa dialog. Didalam setiap tulisan, tokoh utama yang selalu ditampilkan ialah Anwar (Mahasiswa semester akhir, mantan presma yang telah di kudeta atas kerjasama fakultas tehnik dan rektorat), Udding (Petani millennial yang diwaktu senggang nongkrong bersama Anwar, berprofesi sebagai petani tidak kemudian membuat Udding hanya memikirkan lahan garapan, pupuk yang semakin mahal dll, tetapi juga punya wawasan luas tentang konstalasi politik negeri dan mekanisme ekonomi politik global, karena menurutnya lahan garapannya bisa saja direbut oleh kebengisan-kebengisan pemodal), selanjutnya ada Tante Ati (pemilik warung, Adik dari Ibu Anwar, pemilik warung tempat Anwar dan Udding sering nongkrong, warung yang di dindingnya terpajang koleksi buku-buku milik tante Ati, seperti Marxisme Dialektis Marxisme History, What’s to be Done ? Madilog, Novel Ibunda karya Maxim Gorky, Tetralogi Pulau Buru mahakarya Pram dan masih banyak lagi). Tema disetiap tulisan bermacam-macam, bahkan ditentukan oleh isu atau moment tertentu, atau yang lagi trend dan up to date.

Bagikan Dengan Cinta !
Anabel
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?