Serial Baso & Beddu : Kebaikan Yang Salah Kamar

Kabar kepulangan Sandro merebak hingga ke ujung komplek. Memang belum lama ini, ia telah kembali setelah menyelesaikan studinya. Kedatangannya disambut meriah warga komplek.

Sandro adalah putera sulung Pak Imam. Imam mesjid Babanna Soroga, yang juga adalah pemuka agama di komplek itu. Bukan hanya karena kedalaman ilmunya, hingga beban kepeminpinan diletakkan di atas pundaknya. Namun juga dari segi usia yang memang sudah tergolong sepuh. Agar kelak putera sulungnya itu mewarisi cita-cita luhurnya, maka ia dengan sadar mengutus Sandro berjihad ke Timur Tengah. Namun jihadnya bukan dengan senjata, melainkan dengan pena.

Bertahun-tahun Sandro hidup di sana. Dengan bekal yang diperoleh semasa belajar, tentu banyak warga yang menaruh harap bahwa keberadaannya kini di komplek itu bisa menjadi pelita. Terlebih lagi harap Sang Ambo’.

Melihat perawakannya yang terkesan agamis, pastinya keyakinan akan hal itu tidak akan terbantah lagi di mata warga. Maka di suatu kesempatan, saat menanti masuknya Sholat Isya, Sang Ambo’ alias Pak Imam bermaksud mengetesnya. Segera ia mengintruksikan kepada anaknya untuk mengambil alih perannya selaku pemimpin dalam sholat. Setelah iqamat, majulah Sandro. Tak ada gentar dan ragu sedikit pun terbersit di wajahnya. Malah, jama’ah menangkap aura percaya diri darinya.

Setelah menoleh, ia mengarahkan jama’ah untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Lalu mengumandangkan takbir setelah itu.

“Allahu Akbar”

“Subhanallah, syahdunya,” gumam Baso yang turut serta berjamaah bersama Beddu.

Memang, selain dikenal pintar, Sandro juga masyhur dengan paras gagahnya. Inilah pemikatnya, hingga baru kali ini masjid terasa sesak. Khususnya, di barisan kaum Hawa. Padahal sebelum-sebelumnya, masjid terasa sepi. Hanya diramaikan oleh jama’ah yang sudah uzur. Kalaupun ada jama’ah yang muda, jumlahnya tidak seberapa. Tapi, dengan kedatangan Sandro di komplek itu, menyulap suasana masjid. Dari sunyi bak kuburan menjadi ramai dikunjungi bak pasar. Walaupun sebenarnya, bukan rahasia kalau kehadiran jama’ah tidak betul-betul ingin menghadap-Nya. Seperti niat para gadis yang berjejer di barisan belakang. Mayoritas dari mereka hanya menaruh harap. Sebuah harap agar kelak dikhitbah oleh pemuda lulusan Timur Tengah itu.

Rakaat pertama berlansung. Dan memang orang-orang mengiyakan kemerduaan suaranya. Tapi masalahnya kemudian, Sandro terlena sendiri dengan ayat-ayat karim yang dilantunkannya. Saking asyiknya, ia lupa rupa jama’ah di belakang. Ingatannya tidak lagi tersisa buat jama’ah yang sebagian telah uzur. Ia tetap asyik dengan bacaannya. Sekalipun masih muda, akan juga kepayahan menunggui Sandro menyudahi bacaannya.

Tidak terasa, lutut Pak Imam gemetar. Menandakan ia mulai goyah dan tak kuasa lagi menahan beban tubuhnya. Padahal baru saja beliau sembuh dari asam urat. Oleh karena ulah anaknya ini, beliau harus berlatih memupuk sabar. Decak kagum yang semula dibanggakannya, perlahan beralih menjadi gerutuan di balik dadanya.

“Kurang ajar, butuh berapa lembar lagi yang harus dibacanya?”

Lembar demi lembar. Sandro tetap khusyuk. Gemuruh dan bising dari arah belakang tak digubrisnya. Bahkan sesekali kode batuk yang dilemparkan jama’ah, juga tak membawa pengaruh apa-apa.

Memang bukan main surah yang dipilihnya. Ya, Surah Al-Baqarahlah yang ia baca. Baso dan Beddu pun nyaris angkat tangan mengekor di belakang. Pucat sudah tampak di wajah mereka berdua. Pucat yang tak kalah pasi dari jamaah lainnya.

Setelah kurang dua lembar menembus jus pertama. Ruku’ yang dinantikan akhirnya tiba. Betapa bahagianya hati para jama’ah. Seolah berbahagia menyambut kedatangan hujan setelah melalui kemarau panjang. Tapi sedihnya, sebentar saja rasa itu memudar. Belum juga terbayar letihnya, mereka kembali tersadar jika rakaat kedua menanti di depan.

“Sabar, ini ujian,” kata Baso sambil mengelus dada saat menjelang rakaat berikutnya.

Pak Imam pun kembali berkeluh kesah dalam hati, “tega kau nak, baru saja kau pulang, sudah menyiksa Ambo’mu seperti ini.” Karena saking perihnya menahan sakit di kaki, tak terasa air mata Pak Imam menetes. Sepertinya asam urat yang pernah dideritanya kembali kambuh.

Setelah jarum jam menunjukkan pukul 10 malam kurang seperempat, sholat itu berlalu juga. Belum sempat Sandro memalingkan muka ke arah jama’ah. Sontak para jama’ah berucap syukur dan puja-puji seakan terlepas dari derita yang berkepanjangan. Tidak sedikit di antaranya lansung merebahkan badan di lantai begitu saja.

Melihat kejadian itu, senyum Sandro merekah. Ia tidak menyangka ekspresi yang ditampakkan jama’ah melebihi ekspektasinya. Ia salah menangkap maksud.

INTIP JUGA CERITA BASO & BEDDU : DISINI

Masih dengan pose tersenyum, ia menghampiri pak Imam alias Ambo’nya yang sedang meminta Baso dan Beddu memijiti kakinya. Upaya yang dilakukan untuk mengusir rasa sakit di kakinya.

Saat berhadapan, Sandro tak kuasa menahan haru melihat air mata membasahi pipi Ambo’nya. Ia juga tidak pernah menduga, jika Ambo’nya bisa sebahagia itu. Begitulah yang ada dipikirannya. Maka tak perlu menunggu, dengan segera dipeluk dan diciumnya sang Ambo’. Lalu berkata bangga:

“Inilah hasil didikan yang telah dilalui anakmu di negeri nan jauh di sana Ambo.”

Pak imam hanya terdiam. beliau tak mampu berkata-kata karena rasa sakit di kakinya semakin menjadi-jadi. Lantas Baso menjawabnya dengan ketus.

“Jangan terlalu kepedean, daeng. Daeng salah sangka. Air mata Pak Imam ini menetes bukan karena haru, tetapi meringis karena tak kuasa menahan sakit.”

Beddu juga menimpali, “suara daeng memang bagus, tapi untuk memimpin, daeng masih butuh waktu.”

“Apa maksudmu bocah?” Sambil menoleh ke bapaknya, “memang Ambo’ sakit apa?”

“Asam uratnya kambuh dan itu karena ulah daeng,” potong Baso.

“Kenapa bisa?”

“Apakah daeng betul-betul tidak mengerti atau hanya berlagak dongo saja? Coba perhatikan dan pastikan di wajah-wajah para jama’ah, apakah masih ada sisa kebahagiaan di sana? Mereka keletihan seperti Pak Imam,”terang Beddu.

“Saya kira mereka terharu dengan apa yang saya lantunkan?”

“Tadi kan saya sudah bilang. Suara daeng memang memukau. Tapi, bukan hanya itu bekal yang dibutuhkan kala memimpin. Sebaiknya daeng belajar mengenal orang-orang yang akan daeng tempatkan di belakang sebelum berniat berdiri di depan mereka.”

“Sedikit tambahan lagi daeng. Sangat dianjurkan menikmati bacaan panjang saat bermunajat di hadapan-Nya. Tapi, itu jika daeng dalam keadaan sendiri. Hal yang dilperlukan tentu beda ketika melibatkan orang lain. Daeng harus tahu takarannya. Tindakan berlebih akan mendatangkan respon yang tidak diharap. Yang baik bagi daeng, belum tentu baik bagi orang lain. Sebab, setiap orang punya porsinya masing-masing. Memaksakannya berarti sama halnya dengan berlaku buruk kepada sesama.”

“Tapi maksud saya baik. Saya hanya ingin menunjukkan kualitas hasil belajar saya.”

“Bermaksud baik belum cukup membawa kebaikan bagi setiap orang jika kebaikan itu sendiri tidak dikenali daeng. kebaikan bisa menjelma keburukan jika tidak terletak pada tempatnya. Maka dari itu, ia harus porsional dan proporsional.”

“Iya daeng, seharusnya daeng tahu itu. Memang itu baik bagi daeng, tapi bagi kita-kita ini, kebaikan daeng itu salah kamar,” timpal baso lagi.

Sandro tertunduk kecele. Kebanggaan yang memenuhi dadanya, berangsur sirna.

Pak imam tiba-tiba berujar,”nak, apakah kau tahu alasan mengapa seorang pemimpin dalam sholat diharuskan menoleh ke belakang jama’ahnya sebelum memulai?”

“Untuk mengarahkan agar segera meluruskan dan merapatkan barisan Ambo,” jawab Sandro pelan.

“Hanya itu?”

“Mengisinya bila kosong.”

“Lalu, apalagi?”

“Sebatas pengetahuan saya hanya itu Ambo.”

“Masa hanya itu, rugi dong sekolah tinggi-tinggi, jauh lagi,”ejek Baso.

“Memang kau tahu sappo?” serang Beddu.

“Haha.. Tidak juga.”

“Dasar.”

“Saya hanya menirukan kebiasaan yang sering saya saksikan Ambo,” kata Sandro tertunduk malu.

“Membeo tidak selalu baik daeng,” celetuk Baso lagi.

“Husss, jangan asal nyeletuk sappo,” Beddu memperingatkan sahabatnya agar tidak ceplas-ceplos.

Baso terdiam. Jelas ia merasah bersalah. Tak disangka kebaikan yang dimaksudkannya berbuah pahit bagi sekitarnya. Untuk mengikis perasaan yang menyelumitinya itu, kembali Pak Imam menerangkan.

“Begitulah jadinya nak, jika kau hanya sibuk memperindah bungkusmu, hingga dirimu lalai pada isinya.”

“Maksudnya apa Ambo’?”

“Yah, kau harus tahu bahwa maksud belajar itu bukan memindahkan isi buku ke kepala. Begitupun dengan ayat suci-Nya, tidak hanya disalin. Tujuannya tidak sedangkal seperti keinginanmu terlihat cerdas di mata dzahir sekitar. Sebab jika hanya itu, sudah mutlak esensinya tidak akan lahir dalam keseharianmu. Apakah kau sudah mengerti?”

“Iye, Ambo.”

Baso pun tak tahan ikut angkat suara lagi, “Makanya daeng, belajarlah mengenal orang lain dulu agar tahu cara melayani yang baik bagi mereka, ”katanya menggurui.

“Kayak kau mengerti saja sappo.”

“Hahaha.. Sekali-kali bolehlah saya menyumbang nasehat walaupun cuma mengulang kata-katamu dan Pak Imam.”

“Sudah-sudah, tidak usah diperpanjang,”lerai Pak Imam. “Ini sudah waktunya memberi hak perut. Makanan sudah menunggu. Kaki saya rasanya juga sudah mendingan. Mari nak, kita pulang,” ajak Pak Imam kepada anaknya.

“Saya tidak diajak juga?” goda Baso kepada Pak Imam.

“Tanyaaa bapaakkkmu?” teriak Beddu pas di mukanya.

Karena ulah mereka, Pak Iman dan Sandro tertawa. Kemudian mereka pun menyusul tertawa.

 

Abdurrahman Abdullah / Kangur (Kontributor Ngemper!)

Author Profile

Redaksi Ngemper
Ngemper adalah situs tempat anda berbagi opini dan cerita, kami membebaskan dengan nalar senakal apapun, secabul apapun dan se mesum apapun, ruang ini lah tempat kalian, jangan lupa ngopi dan bahagia !
Bagikan Dengan Cinta !
Serial Baso & Beddu, Terbaru
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?