Mendaki gunung saat ini  bukan lagi menjadi sesuatu hal yang tabu di masyarakat kita rasanya, apa lagi bagi generasi muda kita, meski tak semua suka mendaki yang pasti sedikit banyaknya mereka  tau soal olah raga satu ini. Belum lagi di kalangan mahasiswa tak sedikit yang ikut dalam mapala (mahasiswa pecinta alam) dan kpa (kelompok pecinta alam) atau yang sekedar hobi untuk mendaki.

Yang menjadi pertanyaan kita adalah apa yang menjadi magnet dari puncak gunung, sehingga banyak yang mau meluangkan waktu  dan berkorban banyak untuk melakukan pendakian ? . untuk melakukan sebuah pendakian tentu banyak hal yang harus di korbankan baik itu waktu yang bahkan bisa sampai berhari-hari  hingga hitungan minggu, juga berkorban dana yang tak terbilang sedikit jumlahnya, dan tentu berkorban tenaga untuk menapaki medan yang ada. Tapi dengan setumpuk hambatan yang ada justru tidak menyurutkan niat para pendaki untuk tetap menembusi rintangan tersebut untuk sekedar dapat bersua dengan tranggulasi di puncak gunung.

Jika coba tanyakan kemereka yang bisa kita sebut pendaki, akan ada beribu jawaban yang berbeda dari setiap kepala soal alasan mereka harus jatuh cinta pada kegiatan satu ini, dan malah akan keluar sebuah ajakan untuk mencoba sendiri nanjak dan merasakan sensasi pendakian. Terdengar  cukup egois  mungkin atas ajakan tanpa alasan yang cukup jelas  ini, tapi memang ada kebahagaiaan tersendiri yang amat sulit untuk di ceritakan dari keindahan gunung beserta segudang kisah bersamanya dan itu menjadi alasan sehingga cukup sulit untuk menceritakan tentang alasan harus mendaki dan memilih berkata “coba mendaki saja supaya tau” ketika pendaki di tanya.

Pendakian Melawan Ego Sendiri

Musuh terbesar di dalam perjalanan menunjuk titik puncak sebenarnya tidak berasal dari luar tapi justru dari dalam diri kita sendiri,  yakni egosentris individu, dimana musuh kita adalah diri kita. Tak sedikit yang harus menjadi korban atas egonya dan bukan cuma tak sampai pada tujuan saja  yang menjadi kerugiann bahkan kadang nyawa pun melayang hanya karena soal tak mampu mengendalikan diri.

Memanage waktu, barang bawaan, dana dan lain-lain mungkin lebih mudah di banding mengatur ego dan emosi kita sendiri. Hanya karena ego ingin sampai puncak, tubuh yang sudah tak sanggup di paksa sedemikian rupa dan malah membahayakan diri sendiri dan juga rekan se-tim, atau hanya karena ego tak ingin terlihat lemah lantas kata lelah dan sakit menjadi di pertimbangkan untuk di sampaikan  lalu akibat yang lebih fatal mengintai siap untuk menumbangkannya. Masih banyak masalah lain yang di sebabkan oleh hal ini.

Persoalan ini sangat sering di alami pendaki  pemula namun bukan berati yang lebih senior bisa di katakan luput juga, semua bisa saja terjebak pada persoalan ego yang tak semestinya ini, maka seorang yang benar-benar belajar dari pendakian semestinya menjadi seorang yang bisa mengendalikan ego dan emosinya, karena berada di alam atau di tengah hutan dan menajak  juga soal bagaimana bisa mengatur ego dan bagaimana bisa tetap penuh pertimbangan  untuk mengambil keputusan tanpa meninggikan ego saja. Kemampuan mengendalikan ego ini pun menjadi sau hal yang harus tetap ada ketika berada dalam rutinitas sehari-sehari juga bukan Cuma saat mendaki saja.

Solidaritas Dan Kerjasama Tim

Tak ada larangan soal mendaki sedirian tapi mayoritas akan memilih untuk berangkat bersama sebuah tim baik dalam jumlah sedikit 2 sampai 4 orang maupun dalam jumlah banyak bisa sampai 20 bahkan leih. Berjalan dalam satu kelompok memungkinkan untuk meminimalisir bahaya yang mengcam juga mempermudah pembagian kerja sehingga apa yang di perlukan bisa terpenuhi dengan mudah.

Pelajaran penting dari mendaki bersama adalah bagaimna rasa kebersamaan dan kekeluargaan dari semua yang ada di dalam tim menjadi sebuah kekuatan untuk menaklukkan masalah yang datang. Solidaritas yang kental pun terbangun dengan begitu eratnya dengan sebuah prinsip sederhana yakni “berangkatnya sama-sama yah pulangnya juga harus sama-sama” setiap masalah yang datang akan di tanggung bersama dan ditangani bersama demi keselamatan bersama. Sebuah semangat yang juga semestinya bisa kita tanamkan bersama dalam keseharian kita terutama dalam bermasyarakat untuk sama-sama  merasakan sebuah empati satu sama lain sebagai satu kesaruan untuk saling menjaga dan solid.

Selain itu mendaki dalam kelompok akan mempermudah kita menyelasaiakan pekerjaan yang harus di lakuan dengan sebuah kerja sama tim yang baik, satu kelebihan yang sudah pasti tidak di dapatkan ketika mendaki  sendirian. Kadang kerjasama tim ini tampa perlu banyak komando apa lagi aturan tertulis tapi kesadaran pribadi yang akan mendorong untuk mencari tugasnya sendiri untuk dilakukan, tanpa komando ketika beberapa mendirikan tenda yang lain akan bergerak mencari persediaan air sembari yang lain menyiapkan makanan dan yang lain membereskan barang bawaan, lalu pada akhirnya semua selesai dan semua bagian tim bisa duduk bersama di depan api yang hangat sambil bercanda tawa bebas. Andai kesadaran ini bisa menular ke semua yang ada di masyarakat awam  sehingga tanpa ada komando masalah yang ada bisa di selesaikan hanya dengan pembagian tugas secara sadar.

Tetaplah Lestari Alamku

Seiring dengan membuminya olahraga mendaki di masyarakat, maka semakin banyak pula yang ingin coba menjajaki  olahraga mendaki gunung sebagai sebuah kegiatan yang menarik untuk di taklukkan. Seiring hal tersebut pula semakin banyak orang tak bertanggung jawab yang ikut mendaki. Sebuah kesedihan mendalam melihat pendaki yang bukan malah melestarikan alam namun justru mengecewakan alam dengan melecehkan kecantikan ciptaan agung  Tuhan.

Sampah menjadi sebuah pemandangan yang mulai lumrah di banyak gunung yang menjadi objek pendakian, bahkan gunung tertinggi di dunia saat ini juga menjadi tempat sampah tertinggi di dunia karena tumpukan sampah yang mengotori senyum cantiknya. Sampah tentu mengganggu keseimbangan ekosistem alam hingga akhirnya merusak kelestarian hutan yang semestinya  sama-sama kita jaga.


Gunung adalah tempat berpetualangan yang indah  jangan rusak keindahannya dengan sampah bawaan kita yang tak semestinya ada di sana. Mari sama-sama menjaganya dengan sepenuh hati agar pendaki pemula berikutnya bisa melihat apa yang membuat kita harus jatuh cinta dengan kegiatan ini. Jika memang tak bisa membersihkan maka setidaknya jangan mengotori gunung dan jika tak bisa menghijaukan kembali setidaknya jangan merusak hutan, mungkin itu bisa menjadi satu prinsip sederhana yang bisa menjadi bekal penting untuk kita sebelum mencoba petualangan menuju tranggulasi.

Salam Lestari


Chandra Susilo (Menteri Eksternal BEM Umpar)

Edt. Novi

BACA !  Making A Great Site Using Design templates and Web page Builders

Author Profile

Redaksi Ngemper
Bagikan Dengan Cinta !
Uncategorized
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?