Bukan Tentang Perempuan

Halo sayang, perkenalkan saya seorang perempuan yang menyukai dapur, tanaman, alam, anak-anak dan fajar. Aktivitas saya sehari-hari adalah menunggu kabar baik dari langit, menunggu jodoh misalnya. Sambil menunggu seorang ksatria rumah tangga tiba, saya menghabiskan 5 jam untuk tidur pada malam hari. 2 jam untuk mandi, memasak, sarapan dan menyiram bunga. 4 jam untuk berkebun pada pagi hari. 6 jam untuk bersantai membaca buku, menulis atau nonton anime One Piece. 7 jam untuk berdiskusi, meracik kopi, cuci gelas dan membersihkan teras rumah. Saya rasa informasi tentang diri saya sudah memadai dan membosankan, berikut akan saya jelaskan beberapa pengalaman perempuan dalam kehidupan berhari-hari di sekitar saya. Mengapa hanya di sekitar saya, sebab saya yang menulis dan semoga yang di sekitar saya juga adalah di sekitar anda. Selamat menikmati, semoga tetap lapar.

Perempuan dalam keluarga.

Kelahiran seorang anak perempuan dalam sebuah keluarga merupakan berkah bagi kedua orangtuanya, anak laki-laki juga demikian. Akan tetapi dalam budaya bugis anak perempuan menempati posisi yang super ketat, misalnya dalam hal pemilihan pasangan hidup, orangtua pasti ambil andil besar, baik dari segi calon menantu hingga ke jumlah mahar pernikahan. Anak gadis juga dilarang keluar hingga larut malam, tidak boleh bergaul sana-sini, dilarang main bola, kelereng atau memiliki pistol mainan. Dalam hal lain perempuan juga diprioritaskan, misalnya ketika punya kesempatan menunaikan ibadah haji, maka yang didahulukan adalah perempuan. Perempuan pula yang melahirkan anak-anak dan bertanggung jawab mendidiknya hingga menjadi manusia yang baik. Tanpa perempuan yang menguasai dapur, meja makan tak ada artinya, tak ada nikmatnya, begitupun dengan urusan kasur. Cita-cita anak perempuan kebanyakan kandas karena kekhawatiran orangtua, cara terbaik menjalani hidup adalah membuat anaknya berpasangan hidup dengan laki-laki baik yang menurutnya baik, perempuan diam saja dan patuh, orang tua tahu yang terbaik untuk anaknya. Baru-baru ini ada yang mengatakan bahwa jika dalam satu keluarga terdapat 3 anak perempuan, maka ibu bapaknya dijamin masuk surga. Aamiin.

BACA !  Tanya Mamah Novi : Hukum Donor darah Saat Puasa ?

Perempuan dalam budaya.

Dalam budaya bugis, perempuan ditinggikan derajatnya, tidak ada aturan yang membenarkan siapapun berbuat tidak baik kepada perempuan. Anak perempuan mengambil banyak peran dalam ritual adat bugis, semisal dalam ritual pernikahan ada indo botting, indo (ibu) botting (nikah) yang secara keseluruhan dimaknai sebagai seseorang yang mengatur pernikahan, meskipun saat ini kebanyakan indo botting adalah waria, namun pada awalnya indo botting adalah perempuan. Dalam bahasa bugis seorang istri disebut bineh, yang juga berarti benih padi. Hal ini adalah pemaknaan seorang perempuan yang melahirkan banyak kehidupan, walaupun pada zaman sebelumnya budaya patriarki di tanah bugis menyebabkan posisi perempuan selalu di jajah oleh perbedaan hak, namun itu kan dulu, lagipula sejarah dibuat oleh mereka-mereka yang barangkali punya kepentingan. Jika ada waktu luang dan cukup keinginan, bacalah kitab I Lagaligo, kalian akan mengerti posisi perempuan dalam budaya bugis seperti apa.

Perempuan di jalanan.

Saya masih ingat ketika dulu pengguna jalan, baik itu roda dua maupun roda empat di dominasi oleh kaum laki-laki, perempuan hanya berada pada angkutan umum atau ojek untuk bepergian. Jalanan hari ini dominasi oleh kaum perempuan pengguna jalan, yang kini jumlahnya hampir mengimbangi jumlah pengguna jalan laki-laki. Hadirnya teknologi matic dalam kendaran roda dua atau roda empat membuat perempuan merajai jalanan, sebuah teknologi yang memang dirancang untuk pengguna kaum perempuan, mengingat perempuan mempunyai kecenderungan keluar rumah lebih tinggi dibanding laki-laki, penjualan produk motor matic pun melaju melangit mewujudkan keinginan perempuan dengan sempurna. Perempuan sangat diuntungkan dengan hadirnya teknologi tersebut, akan tetapi hal negatif yang hadir karena kendaraan matic dan pengguna perempuan adalah kaum ibu-ibu yang sen kiri belok kanan atau kawan anak-anak baru gaul yang ugal-ugalan di jalanan. Hati-hati di jalan harus tetap terjaga.

BACA !  Melapak Bersama “Pakansi Parepare”

Perempuan dan pasar.

Pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli, teori yang sangat terkenal di manapun. Tapi menurut saya, pasar adalah tempat perempuan pejuang keluarga bertemu, berekspresi dan menuangkan kreatifitas. Mengapa demikian? sebab di pasar, anda akan menemui lebih banyak kaum perempuan dari usia yang berbeda-beda, dari penjual hingga pembeli. Jalan-jalanlah ke pasar Lakessi (Kota Parepare), kalian akan menemui banyak hal tentang perempuan. Misalnya, perempuan yang mengangkat barang belanjaan yang cukup berat kesana-kemari, perempuan paruh baya yang bejualan sayuran untuk menghindari kesunyian, perempuan yang menjual ikan laut dari Lero (sebuah desa di Kabupaten Pinrang) atau perempuan yang menjual ikan air tawar, yang datang jauh dari Kabupaten Soppeng dan Wajo. Di pasar, perempuan mendapatkan ruang-ruang sosial berinteraksi dengan orang-orang sekaligus mengekspresikan kecenderungan  berbelanja kaum perempuan. Selama di pasar masih dipenuhi kaum perempuan, selama itu pula luka negara tidak memburuk.

Perempuan dalam publik.

Dahulu kala, pada setiap struktur yang terbentuk sangat jarang bahkan tak ada sama sekali nama perempuan dalam posisi-posisi stratrgis, paling tidak posisi bendahara. Seluruh posisi pemimpin harus laki-laki, pendidikan yang tinggi harus laki-laki, pekerjaan yang berat harus laki-laki. Hari ini, keadaan telah jauh berbeda, perempuan sudah berani menempatkan dirinya pada posisi teratas atau terdepan. Dalam hal pendidikan, perempuan bahkan jauh lebih bersemangat mengejar ilmu dan ini menandakan bahwa, memberi ruang kepada perempuan perlahan-lahan akan memudarkan pemikiran orang-orang bahwa perempuan tidak pantas setara dengan laki-laki. Dalam sebuah keluarga misalnya, anak perempuan diharuskan menempuh pendidikan yang tinggi, anak laki-laki jika tamat SMA sudah dapat pekerjaan, maka pendidikan jadi tidak penting, beberapa fenomena ini saya temukan pada beberapa keluarga, tidak sedikit yang mengatakan bahwa pendidikan yang tinggi bagi anak perempuan dapat menambah nominal uang belanja saat anaknya dilamar.

Perempuan dalam gerakan.

Di tengah kehidupan berkomunitas seperti yang terjadi di Kota Makassar, gerakan-gerakan dalam bidang pendidik, rata-rata foundernya adalah perempuan, sebut saja komunitas Sokola Kaki Langit dan Rumah Berbagi Asa. Kedua komunitas ini berjalan dengan sistem volunteer dan dominasi perempuan sangat kontras pada kegiatan yang mereka jalankan. Di Parepare hasilnya hampir sama, beberapa gerakan juga di inisiasi oleh perempuan, seperti Coin a Chance yang bergerak di bidang pendidikan, juga komunitas Kolong Langit yang juga berkutat pada isu pendidikan. Saya juga menemukan diri sendiri sebagai founder sebuah komunitas yang bergerak pada isu-isu lingkungan yaitu Bumi Lestari. Beberapa tahun setelahnya, saya juga berinisiatif membuat project bermain sambil belajar di dalam kompleks yang kami namai Cerita Anak Kompleks dan terakhir saya mencoba membuat media alternatif bernama Orazine.

Saat saya diminta menulis tentang perempuan, tiba-tiba saya merasa asing, rasanya seperti akan membicarakan diri sendiri dan tentu saja membicarakan diri sendiri selalu jauh dari kata buruk dan dekat dengan kesombongan. Baiklah, karena ini permintaan, maka akan saya lakukan dengan senang hati, saya akan bercerita tentang apa saja kisah di balik seluruh gerakan yang saya lakukan. Pada awalnya, saya tidak cukup percaya diri menjadi seorang pemimpin, hingga tiba suatu hari pada sebuah organisasi daerah, secara tiba-tiba tanpa persiapan apapun forum musyawarah tersebut memilih saya menjadi ketua, padahal ada tiga orang kandidat, dua orang lainnya laki-laki dan setahun lebih tua daripada saya. Alhasil pemilik suara terbanya jatuh kepada saya, dalam hati saya berontak “sial”.

BACA !  Mangngacara : Minat Baca Rendah, Bersenanglah !

Apa boleh buat, harapan orang-orang menumpu kepada saya, ikhlas tidak ikhlas saya harus menerima amanah itu. Kisah di atas menggambarkan bahwa orang-orang kini memandang seorang pemimpin berdasarkan keyakinan mereka atas diri seseorang, mereka melihat kinerja dan percaya bahwa harapannya dapat diwujudkan oleh pemimpinnya, tak lagi melihat dia seorang perempuan atau laki-laki. Saya menyelesaikan kepengurusan dengan mulus tanpa banyak masalah berarti. Usai kuliah, saya pulang ke kota asal yaitu Kota Parepare dengan niat ingin membuat sebuah lembaga pemerhati lingkungan yang sekarang bernama “Bumi Lestari” secara otomatis saya yang menjadi pemimpinnya. Menjadi motor gerakan sebenarnya bagi seorang perempuan adalah hal yang penuh tantangan, bagaimana menentukan sesuatu tidak dengan selera, bagaimana menyikapi masalah dengan tidak membawa perasaan. Beberapa hal ini kerap membuat saya harus cakar-cakar tembok, mungkin memang benar kata beberapa orang,bahwa perempuan akan membawa bencana jika memimpin, sebab dia akan sulit membedakan perasaan-perasaannya, ada benarnya juga tetapi bukan sesuatu hal yang harus dihindari. Percayalah beberapa perempuan yang saya kenal juga memiliki kegelisahan sendiri terkait perjuangannya memimpin sebuah gerakan, tapi justru hal ini menjadi sebuah ujian naik kelas kehidupan bagi perempuan, yah namanya juga berbuat baik, tak perlu pandang gender, lagipula Tuhan tidak membeda-bedakan umatnya kecuali ketaqwaan dan imannya.

Tidak banyak yang saya dapat tuliskan, hanya tak adil rasanya jika semua hal yang saya alami tidak ikut saya kisahkan di dalam tulisan ini. Saya lebih senang duduk berhadapan, saling tukar cerita di antara kopi-kopi yang dibiarkan kedinginan hingga tandas. Rasanya seru saja, mengetahui sebuah dunia melalui kisah seseorang. Anda dapat menemukan saya di sebuah teras rumah yang memajang buku-buku dan memiliki kopi yang enak. Saya menunggu sesiapapun yang ingin bertandang, kita bisa bercerita tentang perempuan dan kehidupan di sekitar kita, itu sudah cukup membunuh kesunyian kita masing-masing. Salam sayang.

 

Syahrani Said

*(Tulisan ini pernah dimuat dalam koran Ngemper Edisi Juli)

Author Profile

Redaksi Ngemper
Ngemper adalah situs tempat anda berbagi opini dan cerita, kami membebaskan dengan nalar senakal apapun, secabul apapun dan se mesum apapun, ruang ini lah tempat kalian, jangan lupa ngopi dan bahagia !
Bagikan Dengan Cinta !
Esai, Terbaru
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?