Cerita Buku, Cerita Dari Negeri Siput

Judul               : Cerita dari Negeri Siput

Genre              : Kumcer Sastra

Penulis            : Muliadi G.F.

Penerbit           : Sampan Institut

Tahun              : 2017

Sampul depan buku itu berwarna biru langit. Bergambar seekor siput dengan jari teracung membentuk huruf V. Di bawah siput, ada gambar lain berupa empat bunga terbaris sejajar berwarna hijau. Gambar-gambar tersebut tentu punya makna. Juga mungkin kisah.

Penulis bernama Muliadi G.F. Lahir di Bojo, Kab. Barru, 29 Mei 1986. Ia alumni  Universitas Negeri  Makassar, Fakultas Sastra dan Bahasa. Muliadi G.F. menulis cerpen sejak tahun 2009. “Cerita dari Negeri Siput” merupakan buku kumpulan cerpen tunggal pertamanya.  Terdiri dari enam belas cerpen, dan seluruhnya telah pernah dimuat di sejumlah media koran antara  lain:  Republika, Jawa Pos, Banjarmasin Post, Go Cakrawala, Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, dan Fajar Makassar.

*

Bukalah buku itu sahabat, dan kau akan menemukan sungai.” (hal. 1)

Kutipan di atas adalah kalimat pembuka dari Cerpen berjudul “Buku Imajiner Tentang Sungai”. Dan benar, saya menemukan sungai. Saya suka ke sungai. Bermain, mencari ikan, atau menemani teman buang air besar. Waktu itu, saya masih duduk kelas 4 SD. Cerpen “Buku Imajiner Tentang Sungai” itu meransang ingatan—kenangan saya di Popalo, Gorontalo Utara.

Muliadi G.F. mengisahkan salah satu pengalaman tokoh rekaannya serupa dengan pengalaman saya. Diceritakan saat masih bocah, tokoh rekaaan itu kebelet buang air besar saat sedang belajar mengaji. Mendapat izin dari guru mengaji untuk ke sungai buang air besar, ketiga temannya juga melakukan hal yang sama. Di sungai mereka malah bermain dan tidak balik ke mesjid. Guru mengaji melaporkan perilaku keempat muridnya kepada masing-masing orangtua mereka. Para orangtua mara mengenggam masing-masing satu bilah bambu menuju sungai.  Lembut pantat, paha dan betis para bocah itu akhirnya diciumi bambu.

BACA !  Derita Tuan Tanah

*

 “…teruslah membaca, bukalah halaman baru…. Datanglah, kembalilah untuk kesekian kalinya ke sungai itu.” (hal. 10)

Di bagian pertengahan buku “Cerita dari Negeri Siput” saya menjumpai cerpen yang mengharukan. Cerpen itu berjudul “Lukisan Gabah”. Dalam cerpen ini diceritakan seorang petani dengan dua orang anaknya. Anak pertama seorang perempuan berusia tujuh tahun dan adiknya laki-laki.

Setiap selesai panen, mereka membantu ayah mereka mengeringkan gabah. Sang kakak sangat suka melukis di atas gabah dengan menggunakan kaki mungilnya. Saat kegiatan itu berlangsung, si ayah memperhatikan laku anak-anaknya, lalu membayangkan jika kelak mereka bersekolah. Mengenakan baju yang berwarna putih melebih putihnya beras, dan tidak menggunakan kakinya lagi sebagai media untuk melukis. Sebab, kaki itu akan mengunakan sepatu. Dan kanvas lukis anaknya bukan lagi gabah, melainkan kertas.

Lamunan sang ayah membuatnya bersemangat bekerja. Ia mengangkat karung berisi padi ke seberang jalan untuk dikeringkan. Di jalan kendaraan ramai lalu-lalang. Ban mendecit. Mobil-mobil mendadak berhenti. Seseorang menggelinding di aspal jalan. Melihat kejadian tersebut, kakak-beradik itu diam bagaikan patung.

Bila saya yang melihat kejadian itu, saya akan berlari, berlari hingga melintas alam. Seperti salah satu cerpen berjudul “Pelari Lintas Alam” dalam buku ini juga. Ceritanya, terdapat dua pelari yang bersaing mendapatkan posisi pertama pada setiap perlombaan. Cerpen “Pelari Lintas Alam” ini merupakan cerpen favorit saya. Bagian cerita yang membuat saya terkesan adalah saat tokohnya  mendialogkan kalimat berikut:

“Ayo berlari!”

“Tahukah kau, aku berlari kencang karena tak sudi kau mendahuluiku? “Kau adalah pelari terhebat, karena dari keberadaanmu yang selalu membayangikulah, semangatku tumbuh.

BACA !  ANABEL (Analisa Gembel) : Tante Ati dan Pemblokiran Tik Tok

“Semenjak kau pergi, aku tak bisa lagi berlari. Sekarang kita bersua kembali, ayo berlari!”

Secara keseluruhan cerpen-cerpen dalam buku “Cerita dari Negeri Siput” sangat menarik. Ditulis dengan bahasa sederhana, juga dari ide-ide yang barangkali orang lain membiarkannya menguap begitu saja. Sangat disayangkan bila kumpulan karya Muliadi G.F. ini hanya menjangkau segelintir pembaca. []

Nurhusni Adam. Asal Parigi, Sulawesi Tengah. Mahasiswa semester dua Pendidikan Matematika, Fakutas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Parepare. Selain kuliah, ia juga belajar di komunitas literasi Bumi Manusia.

Author Profile

Redaksi Ngemper
Ngemper adalah situs tempat anda berbagi opini dan cerita, kami membebaskan dengan nalar senakal apapun, secabul apapun dan se mesum apapun, ruang ini lah tempat kalian, jangan lupa ngopi dan bahagia !
Bagikan Dengan Cinta !
Resensi, Terbaru
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?