Dua Penunggu Cinta


Kernet-kernet saling berseru melantangkan trayek masing-masing. Sekelompok mahasiswa membawa spanduk dan berteriak-teriak sembari berjalan menuju sebuah gedung parlemen. Para pedagang makanan dan minuman masih sibuk melayani para pembeli dan orang-orang yang berhutang.
Deru suara motor dan mobil mahasiswa serta dosen menyatu dalam kampus. Beberapa orang mahasiswa berteduh sambil berbincang di bawah pohon rindang. Yang lain berlalu-lalang pada siang yang sedang terik.
Riko duduk di sebuah halte terminal kampus, tiba-tiba Rika turut mengambil tempat di sampingnya.
“Tunggu angkot jurusan apa?” tanya Rika.
“Tidak tunggu angkot,” jawab Riko.
“Tunggu teman ya?”
Ya. Seperti itu.”
“Maksudnya?” Rika mengambil selembar tisu dari tasnya lalu menyeka peluh wajah cantiknya.
“Menunggu cinta. Cinta yang pernah lewat.”
“Oh….mantan pacar?” Rika berdiri, membuang tisu tadi ke tong sampah yang jaraknya lebih dekat dengan Riko. “Permisi.” Riko mengangguk, Menyilakan.
“Bukan. Dia yangpernah kusakiti. Di kampus inilah akubertemu dengannya pertama kali.”
Rika sudah kembali ke posisinya.

BACA TULISAN TERBARU DISINI

Bayangan berkelabat, merasuk, memutar memori otak Riko sepuluh tahun sebelumnya kala dia berkenalan dengan Mirna. Lengkapnya Mirna Parasti. Kala keduanya masih kuliah di kampus yang sama namun berbeda fakultas.
Dipan halte itu adalah dipan kenangan Mirna dan Riko. Di dipan itulah ia pertama berkenalan dengan Mirna. Wajah manisnya bertanya di mana letak fakultasnya saat semua calon mahasiswa yang baru lulus tes mulai mendaftar ulang. Dengan perasaan biasa-biasa saja (maklum, Riko bukan tipe lelaki yang gampang tersentuh perasaannya pada pandangan pertama), Riko menunjukkan letak tempat pendaftaran dan fakultasnya.
Tak ada yang lebih. bahkan saat beberapa bulan setelah perjumpaan pertama itu, Riko kembali bertemu Mirna di perpustakaan universitas. Mirna yang belum mempunyai kartu anggota perpustakaan tanpa ragu ataupun sok akrab memohon pada Riko agar dipinjamkan buku menggunakan kartunya.
Dengan serius,Riko menjawab bahwa kartunya sudah tidak bisa dipakai karena jumlah buku yang dipinjamnya telah mencapai batas maksimal  peminjamansesuai dengan peraturan perpustakaan itu. Padahalsebenarnya Riko bisa mengembalikan sebagian buku yang dipinjamnya, agar ia bisa meminjamkan buku untuk Mirna.
Belum selesai rupanya sinyal dari Mirna, dengan segala macam alasan Mirna berkali-kali berkunjung ke tempat kos Riko. Kebetulan, teman-teman yang tinggal bersama dengan Riko di salah satu tempat kos banyak yang berasal dari fakultas yang sama bahkan seangkatan dengan Mirna. Tapi Riko seperti mati rasa. Hatinya laksana besi.
Walau gelombang cinta yang kadang surut, hal itu masih bisa masuk melalui sudut lain. Lewat organisasi. Ya, sebuah organisasi ekstrakurikuler dimana Riko sudah lebih dulu menjadi anggotanya yang pada akhirnya diikuti juga oleh Mirna.
Riko tahu, bahwa Mirna mengikuti organisasi itu karena diajak oleh temannya. Oh, dimanakah hatimu Riko? Ia tak tahu bahwa tujuan utama Mirna masuk organisasi itu adalah untuk mengejarnya. Mirna tak ingin ada wanita lain mengambil mahasiswa pujaan hatinya itu walau sebenarnya juga Mirna juga memang ingin berorganisasi. ibarat falsafah yang pernah didengarnya: Buku, Pesta dan Cinta.
Riko bukannya tidak menangkap sinyal-sinyal cinta dari Mirna. Sungguh, ia tidak mengerti suasana hatinya waktu itu. Apakah dia penakut, masih ragu, atau belum mau punya pacar. Yang jelas, Riko malah lebih sering menggoda mahasiswi-mahasiswi lain bahkan di depan Mirna sekalipun.
Tak jarang memang Riko dan Mirna jalan berduaan baik saat menuju ke sekretariat maupun saat pulang dari sekretariat organisasi itu. Dengan segala kepura-puraaan, Mirna menanyakan berbagai hal tentang organisasi itu agar Riko bisa lebih akrab dengannya. Riko pun tetap dengan perasaan besinya menjelaskan pada Mirna. Beberapa kegiatan organisasi yang diadakan di luar kota sering mereka ikuti. Dan setelah cukup lama bersama dan mempunyai anggota-anggota baru dimana Riko dan Mirna sudah termasuk senior di organisasi itu, maka dengan mudah Mirna bisa mengarahkan dengan siapa ia bisa berangkat. Mirna pun tidak pernah mengikuti kegiatan organisasi itu di luar kota andai Riko tak ikut serta. Semua tentu saja dengan alasan buatan yang masuk akal bagi semua teman-temannya.
Demikianlah, hingga Riko harus melepas jas almamaternya. Mirna hanya bisa menanti cintanya menghilang dari hati.
“Anda sendiri tunggu siapa?” tanya Riko tiba-tiba.
“Saya juga menunggu cinta,” jawab Rika, lirih.
Rika mengenang masa lalunya bersama Aldi Werjusan. Diceritakannya ke Riko, bahwa Aldi adalah senior di fakultasnya. Usia mereka terpaut empat tahun. Simpatinya sudah mulai tumbuh sejak ospek. Aldi seorang pemuda berwibawa. Aldi bukan tipe senior mati kiri. Itu pun tak dibuat-buat, itu pembawaan.
Di awal-awal semester, Rika sudah merasakan ada sesuatu yang lain antara dia dan Aldi. Meski mulanya dia segan, maklum Aldi adalah seniornya, namun lama-lama Rika tak lagi merasa sungkan untuk minta tolong ke Aldi kalau mendapatkan suatu masalah.
Rika telah mempermainkan perasaan seorang Aldi. Begitu banyak harapan yang ia siratkan ke Aldi hingga membuat Aldi tak kuasa untuk menyatakan cintanya. Tapi sebelum semua itu terjadi, Rika telah menjadi milik pria lain. Aldi hanya bisa berusaha maklum saat Rika berterus terang bahwa dia sudah ada yang punya.
Tak pernah disangkanya bahwa pria pilihannya hanyalah permainan kawan akrabnya. Pria yang dicomblangkan kawan akrabnya itu hanyalah jebakan karena kawan akrabnya ingin mengambil Aldi darinya.
Sejak itu pula Rika tak pernah lagi bertemu Aldi, apalagi saat itu Aldi telah menamatkan studinya dan kembali ke kampungnya. Begitu informasi yang Rika peroleh dari berbagai sumber.
“Kenapa anda tunggu di sini?” tanya Riko.
“Saya bermimpi, Aldi menyuruhku ke tempat ini. Katanya ia ingin bertemu denganku, ada sesuatu yang ingin disampaikannya,” jawab Rika.
“Anda sendiri, kenapa  menunggunya di sini?” Rika balik tanya.
“Sama seperti anda; karena mimpi.”
***

BACA CERPEN LAINNYA DISINI

Tanpa terasa, siang berubah petang dan petang berubah malam. Suara-suara kian redup. Bunyi bising kendaraan para mahasiswa dan mobil angkutan kampus tak terdengar lagi. Kernet-kernet istirahat. Tak ada lagi parkiran mobil para dosen, begitupun sang rektor. Tak ada kegiatan civitas akademika di kampus malam itu. Semua pedagang makanan dan minuman telah pulang ke kediaman masing-masing untuk mempersiapkan jualan esok harinya, sambil merekap hutang-hutang para mahasiswa yang sering membela mereka.
Larut malam menyungkup kampus. Bintang-bintang memendarkan kilaunya. Elusan angin begitu sejuk meraba kulit Riko dan Rika. Satpam-satpam kampus sudah mulai berpatroli. Sempat pula menegur Riko dan Rika. Dengan kecakapan berbahasa, Riko dan Rika bisa mengalahkan satpam kampus, terlebih lagi mereka adalah alumni  kampus itu.
“Kami pasti pulang Pak. Tanggung, sudah dari tadi siang kami menunggu,” tukas Riko.
***
Kini, Riko dan Rika sadar bahwa dunia kampus yang pernah mereka rasakan telah menawarkan sebuah kenangan indah pada mereka. Ada tawaran hidup yang diberikan pada mereka. Ada idealisme yang mereka pupuk di dalamnya. Tak terkecuali dalam hal asmara. Jika kini, ada sesal yang hinggap di lubuk Riko dan Rika, mereka berjanji akan memintalnya kembali dengan lebih baik agar tak membuat mereka menunggu lagi entah sampai kapan.
Rasa sesal itu menjadikan mereka sepasang penunggu yang setia. Menunggu seseorang yang semestinya sudah bisa menjadi pasangan hidup dan mempunyai buah hati. Tapi sesal selalu datang belakangan, tak pernah berada di lini depan.
Dan kini mereka tak punya kekasih. Rika menghentikan hubungan dengan prianya setelah memergokinya selingkuh dengan sahabatnya. Sedang Riko hanya menjadi laki-laki pengagum rahasia bagi banyak wanita sekaligus penggombal nomor sekian.
Rika sering dijodohkan keluarganya. Ia terus menolak. Riko pun diperlakukan banyak orang laksana zaman Siti Nurbaya. Ia ingin bertemu Mirna.

Mereka bosan dengan orang-orang yang suka mengurusi urusan orang lain, bosan dengan orang-orang yang menganggap aneh seorang sarjana, dana cukup, fisik menawan, karir menunjang namun belum juga menikah. Pencarian pun digelut, dunia nyata pun maya, walau hasil sama nihilnya.

***
Ada keinginan dalam hati mereka untuk menarik masa lalu dan memasukinya kembali. Seolah masuk ke dalam bulan yang sedang redup di atas mereka dan menambah daya terangnya agar purnama merekah. Bulan pun tersenyum. Memancarkan sinar hatinya pada dua penunggu itu. Sebuah sulur tepat jatuh menimpa mereka.
Mereka mendongak, mengikuti alur sulur tersebut. Di bulan tampak samar dua sosok sedang berbincang sangat mesra bak dua sejoli yang sedang berkasih asmara.
“Sepertinya aku mengenal wanitanya,” kata Riko.
“Sepertinya aku mengenal prianya,” kata Rika.
Dua sosok itu melambaikan tangan pada mereka. Tak lama kemudian, dua sosok itu memegang sesuatu lantas melemparkannya ke Riko dan Rika. Perlahan-lahan, benda itu bergerak mengikuti arus sulur cahaya bulan. Makin dekat, Riko dan Rika memerhatikan bahwa benda itu berbentuk persegi panjang. Riko dan Rika lalu menangkap benda berbentuk persegi panjang itu yang ternyata sebuah undangan. Dibukanya, sigap membaca siapa gerangan calon mempelai:
“Akan menikah: Aldi Werjusan dengan Mirna Parasti”***

Biodata penulis:
Lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 16 Maret 1978. Sempat kuliah di jurusan Administrasi Negara FISIP Universitas Hasanuddin Makassar 1996-2003.
Tulisan pertama dimuat di rubrik “Suara Tifosi” Tabloid Bola, tahun 2004.
Cerpen cerpen antara lain pernah dimuat di Seputar Indonesia, Fajar, Jurnal Nasional, Majalah Ekspresi, Radar Surabaya, LenteraTimur.com,  Buletin Jejak Literasi, pijarnews.com,  Sinar Harapan dan beberapa media lainnya.
Buku antologi bersama: Kumpulan “Cerpen Serumah” Parepare Menulis — Benarkah Menantuku Parakang? ; terbit tahun 2017.

BACA !  Belajar Dari Sosok Kartini

Author Profile

Redaksi Ngemper
Bagikan Dengan Cinta !
Cerpen, Terbaru
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?