Labolong dan Adiknya

“Paman Dokter. Perkenalkan ini adikku. Teman bermainku. Orang bilang ia boneka, tapi aku membantahnya. Ia sakit. Dan aku mau dia dapat tertawa lagi saat aku terbangun esok hari. Tetapi pagi ini aku tak pernah melihatnya tertawa atau tersenyum sekali saja. Ia sakit dok. Sehingga ia lebih memilih tertidur sebelum aku membawaakannya ke pada dokter. Aku berjanji padanya saat malam ia kedinginan meminta aku memeluknya dalam rumah kecil kami. Membawaanya pada dokter. Ia kedinginan. Lihat saja kulitnya pucat dan kedinginan. Dan aku hanya menghangatinya dengan truz berada digendonganku”

Matahari  itu berada tepat diatas rambut pirang kusut tak karuan tanpa terikat seperti rambut ekor kuda. Sekali-kali ia menggaruk kepala tanda ia tak pernah keramas beberapa hari sebelumnya. Kutunya sesekali terlihat sedang bergelantungan. Dirambutnya menjadi sarang dan ia menjadi pengembala kutu-kutu  kelaparan sepertinya. Ia berjalan menyusuri tebing-tebing yang tinggi, melewati beberapa aliran sungai yang tak sama sumbernya. Dikakinya tak terlihat alat sebagai pelindung dari batuan tajam  atau rumput yang berduri, atau juga dari sengatan beberapa serangga mematikan seperti semut prajurit, kalajengking atau lipan yang bisa saja terlintas berjalan-jalan didepannya tanpa ia sadari. Tak mungkin anak itu  berkesempatan memerhatikan hal sedetail itu dalam tiap langkahnya.

Intip Juga Cerpen Lainnya Disini

Dikiri dan dikanan ada tumbuhan berbagai jenisnya. Pohon tinggi dalam  ukurannya  berlainan satu sama lain. Rumput hijau dan kering terlihat begitu akrab dengan tumbuhan lainnya. Hingga mereka menyatu membentuk sebuah pagar berduri dan tajam. Tak membiarkan anak itu lewat sepertinya. Ditanah ada sesuatu berbagai rupanya. bergerak-gerak dan yang diam seperti tak pernah terjadi apa apa. Apa pun itu, bukan menjadi urusannya. Sebab ia membawa sebuah misi yang tak kalah pentingnya. Dipunggungnya. Dengan berat yang tidak biasa. Seorang adik kecil yang sedang tertidur pulas.

Labolong. Dengan warna kulit yang hitam. Rambut keriting. Dan berkuku panjang. Seharusnya anak seusianya sekarang berada di dalam kelas menerima pelajaran. Tp ia berada dluar. Sebab labolong tak bersekolah. Sekolah terlalu jauh untuknya. Harus melewati dua gunung yang tak dapat disebut sedang. Apalagi ia masih memiliki adik meski sudah tak lagi bersama orang tua tinggal dalam satu rumah. Orang tuanya juga memiliki rumah lain tp lebih sempit lagi.

Pua Kuseng. Dengan jeli dan piawainya memanjat pohon aren ditebing jurang. Tanpa tangga juga tanpa pengaman seperti kebanyakan pekerja lainnya. Hal ini berbeda. Sebab ia tak berada dikota. Ia berada di hutan belantara bersama beberapa warga yang masih bertahan. Tak seperti masyarakat lainnya memilih pindah ke kota Polewali sebab menyediakan apa saja. Pua Kuseng kemudian menggelengkan kepala setiap kali ia mengingat Pua sannung. Warga pertama yang memulai dan mengajak masyarakat lain pindah ke kota.

Tak terlihat kesulitan memanjat pohon berambut ini. Meski juga banyak semut kecil yang gigitannya tak main-main. Pua Kuseng sudah mahir. Sebab aktifitas ini sudah menjadi hal yang rutin. Tentu saja, Pua Kuseng memanjatnya dua kali dalam sehari. Pagi dan sore mengganti jirigen yang sudah terisi tetesan air manis. sebagai bahan utama pembuatan gula merah ini. Tak sedikit bercampur dengan serangga kecil.

“Mau kemana kamu Labolong?” teriak pua kuseng dari atas pohon aren ketika melihat Labolong lewat berlari kecil tanpa senyum sapa seperti biasanya. Bersama adik kecil yang sedang tertidur pulas.

“Ke Kota Pua Kuseng” juga teriak balasan Labolong sambil menarik napas dalam-dalam memperbaiki posisi adiknya dibelakang. Labolong berhenti sejenak.

“untuk apa? Apa kamu juga ingin berpindah ke kota seperti Pua Sannung si pengkhianat itu?”

“tidak Pua kuseng. Ladoki, adikku sakit tiba-tiba. Tak pernah ia kulihat seperti ini sbelumnya. Aku ingin membawanya ke dokter. Dan dokter hanya ada dikota”

“ah. Tidak usahlah kau bawa adikmu ke dokter. Bawa saja ia ke pua Lamang. Ia dukun yang mampu mengobati semua jenis penyakit termasuk adikmu itu” suara pua kuseng semakin tinggi nadanya. Berusaha mengajari anak bodoh seperti Labolong ini “aku ini juga sudah disembuhkan oleh pua lamang. Lihat kakiku ini. Dulunya pincang berjalan. Sekarang  memanjatpun aku bisa berkat pua lamang. Dan itu bukan dokter, tapi dukun, ilmu yang diwariskannya itua dari turun temurun, dari nenek moyang kita dahulu, jauh sebelum negkau lahir Labolong. Kita wajib memercayai ilmu yang diwariskan nenek moyang kita, kalau tidak, mereka kan marah dan membawa bencana di kampong kecil kita” nada suara pua kuseng lagi-lagi menggurui Labolong.

Intip Juga “Masjid Bukan Untuk Mail”

“saya tak percaya mitos murahan itu pua kuseng, pua lamang juga manusia biasa. Bahkan dia pernah juga merasakan sakit hamper mati dan tak mampu mengobati dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa mengobati orang lain sedangkan dirinya sendiri butuh pertolongan dari orang lain. Saya memang anak kecil yang masih sering mengeluarkan hingus hingga sering kujilaati. Tapi saya tak percaya omongan dari mulut kemulut itu. Pada ujungx menyampaika makna baru. Tidak pua kuseng, adikku takkan beronbat kepada pua lamang yang bergigi ompong itu”

BACA !  Editorial E-Paper Ngemper! Edisi III

“sudahlah kamu anak kecil. Saya ini lebih dahulu memakan garam daripada kamu. Pua lamang juga begitu. Anak kecil seperti kamu tidak tahu apa-apa. Ini sudah warisan turun temurun. Meskipun pua lamang takkan rela begitu saja mengobati pasiennya. Ia akan dibayar dengan sejumlah liter beras atau bungkusan gula merah. Itu sudah cukup labolong. Kasian adikmu itu sudah lelah berada dipundakmu”

Meski pua kuseng bercerita panjang lebar tentang ilmu nenek moyang itu, tapi labolong tetap pada pendiriaannya. Anak kecil seperti labolong tak ditakdirkan menjadi bodoh seperti yang dikatan pua kuseng kepadanya. Ia tak mungkin berfikiran sama dengan orang-orang pada umumnya dikampung. Dengan membawa ayam kampong, telur, dan buah-buahan berbagai macam jenisnya.

Hari masih berlalu sementara laabolong masih terdiam berdiri melamun. Bukannya ia tak tahu haarus kemana tapi ia bingung bagaimana caranya bisa lolos dari cengkeraman pua kuseng yang seakan membuatnya berhenti melanjutkan perjalanan jauhnya. Rumah sakit antara tempat labolong berdiri tak cukup dekat. Ia masih harus melewati dua aliran sungai yang berbeda sumbernya.

“Hei labolong, kembalilah. Temui pua lamang. Ia dapat membantumu” sambil turun dari pohon.

Langkah kehati-hatian pua kuseng tak berhasil. Ia kehilangan keseimbangan. Ia hamper saja terjatuh. Untung saja celananya menyangkut di batang-batang kecil dan ia masih beruntung dapat puang dengan kondisi utuh.

Pua kuseng turun lebih dengan sangat hati-hati tak seperti sebelumnya. Ia menginjakkan kakinya ditanah tanda ia telah selamat.

“saya akan mengantarmu ke pua lamang. Tapi dengan sedikit liter beras aku bisa mengantarmu sampai didepa pintunya”

Pua kuseng masih menghadap ke pohon dan memperbaiki celana yang hamper kedodoran. Sekali-kali memperbaiki parang yang terikat dipinggangnya. Dengan rasa percaya diri pua kuseng membalikkan badan dan labolong telah hilang entah kemana. Tentu pua kuseng terkejut dan merasa sudah dibohongi seorang anak kecil. Tapi apa yang membohonginya? Sebab labolong tak pernah menolak atau mengiyakan sebelumnya.

Intip Juga “Pak Ramli si Penceritera”

Labolong ternyata sudah mempersiapkan rencana kaburnya dari hadangan halus pua kuseng. Ia dengan cepat memperhitungkan kapan ia harus cepat-cepat melangkah pergi saat pua kuseng hamper terjatuh dari pohon tinggi itu. Dan siapa sangka, rencana kecil dan mendadaknya itu berhasil mengelabui pua kuseng dengan sangat cermat dan teliti.

Kini labolong tak main-main. Langkahnya terlihat menambah kecepatan. Sebab ini pertarungan antara hidup dan mati adiknya. Dan hasilnya ada ditangan labolong. Jalan-jala setapua kecil yang telah hamper tertutup arumpu berduri tak menghalanginya. Berbagai tumbuhan yang mampu melukai tak dihiraukannya. Meski darah kecil terlihat dikaki dan tangannya akibat terkna benda tajam alami dari alam.  Melompati batu, kayu jati yang telah ditebang liar oleh orang kota dan tanah basah hasil peristiwa longsor disekitarnya. Sebab hutan tak lagi menyediakan surge bagi flora dan fauna. Kampong ini nantinya akan menjadi perkotaan. Dan tak ada lagi para petani cengkeh hidup disini.

BACA !  Tentang Perempuan

Adiknya. Adik labolong kecil yang menderita diare berkepanjangan. Panas ditiap malam. Duduk tenang digendongan kakaknya yang sekali-kali ngos-ngosan tanda ia kelelahan. Tak pernah monyet kecil diatas pohon kakao itu melihat labolong berhenti sejenak. Seekor monyet dengan luka bekas tembakan ditangan hingga ia tak mampu lagi memanjat poho tertinggi dalam hutan. Semua makhluk serasa diam melihat tingkah labolong yang tak biasa dari sebelumnya.

Waktu berlalu. Tangkai, batang, batu, sungai, bukit telah ia lalui untuk sampai pada batasan kota dengan kampungnya. Sekali-kali motor dan mobil mewah berlalu dengan cepat. Suaranya bising da mengerikan. Sebab dihutan tu sunyi dan tenang. Labolong tak biasa mendengarnya. Juga beberapa bangunan rumah batu yang berbagai macam warna dan bentuknya. Manusia sering berlalu lalang dengan sepeda atau berjalan kaki sambil membawa kerancang berisi sayuran dan ikan kering dari lautan.

Labolong tetap berlari meski kumpulan orang menatapnya dengan curiga. Ada apa engkau labolong berlari secepat itu, dan ada seorang anak kecil dipunggungmu terliha tsedang menikmati permainan labolong jika ini dapat disebut sebagai permainan anak seusianya. Yang ada hanya rumah sakit dan dimana ia akan menemukannya. Ia hanya perlu bertanya sebab ia tak tahu membaca.

“tabe’ indo. Dimana saya dapat menemukan rumah bagi orang sakit?. Saya membutuhkan seorang dokter yang berpengalaman. Tidak seperti pua lamang yang hanya tahu membaca mantra. Adikku sakit. Tolong lah kami” sapaan labolong sungguh menyentuh seorang ibu yang didapatinya dijalan sambil membawa cucian dari sungai seberang.

“kasiannya engkau nak. Ta jauh dari sini. Itu didepan. Kamu sudah dapat melaihatnya. Tapi untuk apa kamu bawa boneka kecil itu nak?” balas ibu itu dengan sedikit heran menganggap itu adalah boneka kecil yang terbungkus sarung berwarna hitam.

“tidak ibu. Ini adikku. Dan ia sakit. Aku ingin mengobatinya. Agar ia dapat bermain denganku dimalam hari. Atau menemaniku ke sungai mencuci baju. Atau kehutan mencari kayu bakar dan akan sayajuala ke indo suri”

Ibu itu semakin bertanya-tanya. Apa anak ini sedang bermain boneka dengannya. Tapi sepertinya ia mencari rumah sakit yang tak dapat dijadikan sebagai tempat bermain anak-anak. Apa itumemang adknya? Tapi mengapa seperti boneka dan tak bergerak seperti seorang adik.

Dengan begitu labolong melanjutkan perjalanannya dan sampailah ia adidepan pintu masuk rumah sakit. Labolong melihat sekumpulan orang sedang menangis entah karena apa, orang-orang kelihatan gelisah sedang menunggu siapa. Tapi yang ia tahu bahwa aku harus membawa adik ini menemui dokter yang entah ruanya seperti apa.

Laabolong menanyai orang satu-persatu. Dan ia menunjuk kepada seorang lelaki berbaju putih bersih dengan sebuah kalung aneh dilehernya sedang membelai bunga yang berada di pot depan ruangannya. Labolong mendatanginya dengan diam.

“paman dokter. Perkenalkan ini adikku. Teman bermainku. Orang bilang ia boneka, tapi aku membantahnya. Ia sakit. Dan aku mau dia dapat tertawa lagi saat aku terbangun esok hari. Tetapi pagi ini aku tak pernah melihatnya tertawa atau tersenyum sekali saja. Ia sakit dok. Sehingga ia lebih memilih tertidur sebelum aku membawaakannya ke pada dokter. Aku berjanji padanya saat malam ia kedinginan meminta aku memeluknya dalam rumah kecil kami. Membawaanya pada dokter. Ia kedinginan. Lihat saja kulitnya pucat dan kedinginan. Dan aku hanya menghangatinya dengan truz berada digendonganku”

Andriadi

Author Profile

Anriadi
Anriadi
Anriadi, seorang anak kampung yang lahir dr tanah Pattae yg subur akan alamnya di Polman. Mahasiswa akhir UNM jurusan Sastra Inggris ini pernah bergelut di organisasi intra n ekstra kampus, sperti UKM LKIMB UNM, IMM, IMDI, Lentera FBS UNM dll. Saat ini beliau sedang menggarap komunitas bahasa inggris di UNM yaitu Orange Engliah Community (ORECOM).
Latest entries
Bagikan Dengan Cinta !
Cerpen, Terbaru
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?