Mangngacara : Minat Baca Rendah, Bersenanglah !

UNESCO, LSI, dan entah siapa atau kalangan dari mana lagi, yang akan memberi pernyataan dari temuan mereka bahwa minat baca kita rendah. Mengerikan?

Sabtu, 31 Maret 2018, dua komunitas literasi Parepare, yakni Rumah Baca & Kreasi Qalam dan Bumi Manusia menggelar lapak baca bersama di dua tempat. Sore di Taman Syariah dan pada malam harinya di Lapangan Andi Makkasau. Nyata di mata mereka bahwa buku adalah benda kesepian di antara tumbuhnya rumput, bunga, gemerlap lampu-lampu dan orang-orang.

Tidak banyak pengunjung di Taman Syariah sore itu. Hanya ada enam bocah dan seorang ibu yang sedang membersihkan taman. Hendrik dan Herly (Bumi Manusia) mencoba mengajak mereka membaca. Andini, Sahra, dan Aulia didampingi oleh Herly sementara tiga anak lainnya bersama Henrik.

Intip Juga “Diskusi Filsafat Jaahilisme Bersama Dirja Wiharja”

Sahra belum mampu membaca, ia bahkan belum mengenal huruf. Herly menuntunnya dengan menyebut gambar-gambar flora dan fauna yang ada pada buku. Di sela keasyikan itu, Herly tiba-tiba tertegun. Dilihatnya Andini yang memiliki kelainan pada matanya. Andini berhenti sekolah saat ia menginjak kelas 3 SD. Alasannya apa, ia tak tahu. Akan tetapi, membaca adalah hal yang menggembirakan bagi Andini.

Sekitar sejam kemudian, Rendra (Qalam) dengan sekoper penuh berisi buku tiba di taman. Kami kira ia calon jamaah umrah yang gagal berangkat seperti yang diberitakan oleh televisi. Sebab, koper berwarna ungu yang ia seret tertulis keterangan seperti itu.

Menjelang maghrib para pegiat kemudian melanjutkan lapak baca di lapangan Andi Makkasau. Di sana, sudah lebih dulu tiba teman-teman dari komunitas Qalam, antara lain Selvi, Adim, Rass, kemudian disusul oleh Kirez pada ba’da maghrib. Setiap sabtu malam, lapangan itu selalu ramai oleh pengunjung. Ada yang datang sekadar berfoto di Monumen Cinta Habibie Ainun, bermain motor dan mobil listrik, atau sekedar berjalan-jalan dengan pasangan.

BACA !  April dan Dua Satu (21)

Suasana lapak tidak jauh beda, tetap sepi. Wajah para pegiat murung. Mereka lesu juga lapar. “Minat baca masyarakat memang rendah. Sudahlah. Lebih baik pulang,” mungkin begitu kata-kata kami masing-masing dalam hati.

“Jalangkote, Kak ?” kata seorang anak laki-laki.

“Berapa ?” 

“Two thousand,” jawabnya.

“Saya sakit gigi, De. Bagaimana kalau Kau membaca, saya jual jalangkotemu ?” 

Anak itu menerima tawaran saya. Sesekali ia ngobrol bersama Selvi dan Rass menggunakan bahasa Inggris. Dari pembicaraan mereka, saya tahu bahwa namanya Heril, siswa SMK kelas X.

Intip Juga Reportase Lainnya DISINI

Menjelang Isya, Eca (kelas 1 SD) dan adiknya Farza (TK) menghampiri lapak baca. Tidak butuh waktu lama bagi Henrik, kedua bocah itu sudah duduk di hadapannya. Bersama Henrik, kedua bocah itu tenggelam dalam bacaan. Bahkan, ayah Eca dan Farza tampak tidak rela mengganggu mereka.

Mungkin terpengaruh oleh Eca dan Farza, beberapa anak laki-laki ikut mendekat. Melihat kondisi itu, Kirez dengan tanggap menghampiri mereka. Suasana berubah riang, menyenangkan, meskipun hanya berlangsung sesaat. Setengah sembilan malam, lapak baca kami kemas. Kemudian pulang. Malam minggu terasa hanya menyediakan sedikit kesenangan bagi kami.

Ilham Mustamin (Bumi Manusia)

Author Profile

Redaksi Ngemper
Ngemper adalah situs tempat anda berbagi opini dan cerita, kami membebaskan dengan nalar senakal apapun, secabul apapun dan se mesum apapun, ruang ini lah tempat kalian, jangan lupa ngopi dan bahagia !
Latest entries
BACA !  Malam Parepare dan Sepenggal Masa Lalu
Bagikan Dengan Cinta !
Mangngacara, Terbaru
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?