Masjid Bukan Untuk Mail

Setelah Mail mencoba kabur dari masjid, segera ayahnya akan tahu tingkah lakunya malam ini. Mail kembali mengusik ketenangan ayahnya setelah pura-pura meludah dihalaman masjid dan tak terlihat kembali. Ayahnya marah besar, ini bukan yang pertama kalinya ia membuat ayahnya malu, sebab kehilangan Mail yang tiba-tiba diumumkan dimasjid sebagai anak yang suka lari setelah salat berjamaah tanpa ikut berdzikir bersama yang panjangnya tiga kali lipat dari salat fardu barusan ia kerjakan.

Orang tua akan selalu memantau anak-anak bahkan remaja yang suka tertawa dan berlari dalam masjid. Seperti kasus kemarin, Icel, seorang anak kecil berusia 4 tahun 5 bulan harus merasakan pukulan dari salah satu pengurus masjid yang merasa terganggung akibat suara “amin” dalam salat berjamaah terlalu keras. Pua doja begitu pintar menandai suara anak yang berlebihan keras dalam salat ketika imam selesai membaca surah al-fatihah, maka setelah salat ia akan bediri mengambil kayu yang telah ia sediakan untuk mencari anak nakal itu. Si pengganggu salat dan tak pantas ikut salat berjamaah.

Begitulah aturanm dimasjid itu, masjid Al Ummah, yang artinya “Ummat” tapi dilarang untuk anak-anak. Begitu kata Haji Lamang yang diangkat sebagai imam desa kepercayaan masyarakat.

Baca Lainnya Disini

“jika ada anak-anak yang ribut dalam masjid, maka tarik saja keluar. Itu tak apa-apa sebab mereka mengganggu kita dalam salat. Barang siapa yang mengganggu orang salat adalah kafir”

Mendengar hal itu, para masyarakat akan mengangguk sebab Haji Lamang adalah imam masjid, tokoh agama meski ia hanya meneyelesaikan sekolah dibangku SD dan tak pernah mendapat ijazahnya. Jika ia berbicara maka tak boleh ada yang melawan, termasuk pemerintah desa tak berkutik dibuatnya, katanya Haji Lamang adalah pewaris nabi yang membawa kebenaran dan keselamatan.jika ada yang melawannya, menurut mitos akan meninggal dalam keadaan mengenaskan dan mendapat azab kubur yang mengerikan.

Begitupun ayah Mail, akan memukul anaknya jika ketahuan bercerita bersama sebayanya meski suaranya tak pernah kedengaran, jika terlihat gerakan tambahan selayaknya seorang anak, maka tunggulah dirumah, Mail kembali akan dicambuk dengan Rotan yang dibeli khusus untuk anaknya, jika ber-ulah lagi, Mail akan mendapatkan hukuman yang lebih parah lagi, kakinya akan digantung diatas dan kepalanya berada dibawah sambil Mail menangis memanggil ibunya yang tak bisa apa-apa melihat anaknya. Jika sang ibu memohon untuk melepaskan anaknya, maka keluarlah fatwah bahwa istri tak boleh melawan suami, jika melawan maka laknat malaikat mengikuti sampai keesokan paginya.

BACA !  Jejak Hari Bumi Sedunia

Tidak hanya Mail, beberapa anak seusiaya juga diperlakukan sama oleh orang tua lainnya jika kedapaatan berbuat onar dalam masjid meski bukan pada waktu salat. Pengurus masjid akan menyediakan buku tebal yang akan diisi nama dari anak-anak yang ribut dimasjid beserta nama orang tuanya dan akan diumumkan dipengeras suara.

Inisiatif ini adalah hasil mufakat tokoh agama yang tak boleh dibantah dan dipersoalkan. Sebab ini tentang agama, ini tentang tuhan. Katanya Tuhan membenci rumahnya dihuni anak kecil yang baru belajar sembahyang. Jika ingin belajar salat, maka belajarlah dirumah, jangan dimasjid.

Meski sering dipukuli ayahnya, Mail tak henti-hentinya menghabiskan waktunya dimasjid. Baginya, masjid adalah tempat bermain yang indah meski penjaga pintu neraka sering melarangnya juga mengusirnya. Mail akan mengajak anak-anak lain berkunjung ke masjid, dengan songkok dikepala dan sarung yang digubakan agar ia terlihat ingin ikut salat berjamaah. Bukanya malah berkurang, kini ramai dihuni anak-anak meski mereka harus mengambil saf paling belakang agar atak mengganggu para orang tua.

Baca Juga “Pak Ramli Si Pencerita”

“Mail, aku lupa surah apa yang dibacakan Haji Lamang?” bisik Icel, tanyanya pensaran bacaan Haji Lamang.

“itu surah Al-Fatiha”

“mengapa surah itu yang paling sering dibaca pak imam?”

“sebab pak imam hanya tahu surah itu. Dia tak tahu surah yang lain”

Mendengar jawaban Mail, Icel pun kini paham.

“Mail, kenapa pak imam berhenti?”

“pak imam lupa bacaan surah Al-Fatihanya”

“Kenapa pak imam bisa lupa?””

“mungkin karena sudah tua, lihatlah giginya saja sudah tak ada” ucap Mail sambil tertawa kecil

“mengapa orang tua lain tak mengingatkan?”

“Mungkin mereka juga lupa. Sebab mereka adalah orang tua yang sebentar lagi dijemput ajal”

“lalu apa yang mesti kita lakukan?”

“lanjutkan bacaan imam, kita harus mengingatkannya”

“jangan, nanti kamu akan dikuliti oleh Haji Lamang” pesan Icel pada Mail dengn sedikit rasa takut.

“waladdollin…….” teriak Mail memperingatkan bacaan pak imam.

Setelah mendengar teriakan Mail yang begitu keras, Haji Lamang kini mulai melanjutkan bacaannya dengan lancar. Gerakan salat Haji Lamang kini terlibat cepat meski tulangnya sudah tak kuat. Bersegera mentyelesaikan bacaannya dan salamnya tak seperti biasanya.

BACA !  Hanya Kota Ini

Setelah salam, Haji Lamang yang biasanya langsung memimpin jamaah berdzikir kini tak lagi lakukan. Ia berdiri dan terlihat seperti mendatangi saf anak-anak yang paling belakang. Dengan nada keras ia bertanya.

“siapa yang melanjutkan bacaanku tadi?”

Mendengar suara keras Haji lamang dan muka yang dibaluti kulit kemerahan, anak-anak tak ada yang berani bersuara. Kecuali.

“saya” suara lembut dari Mail sembari mengangkat tangannya dan tersenyum lebar.

“kurang ajar” teriak haji Lamang sambil menampar keras kpala Mail hingga membentur lantai. Hal ini membuat anak-anak ketakutan dan menangis melihat Mail diperlakukan seperti pencuri sendal yang baru mereka lihat dipasar kemarin. Mail pun demikian begitu takutnya harus menerima pukulan dari seorang imam masjid dikampugnnya. Kepalanya yang membentur lantai membuatnya mengeluarkan darah. Haji Lamang tak sedikit merasa ibah, sebab anak-anak pengganggu salat adalah musuh yang harus dimusnhakan. Tak sampai disitu, melihat Mail yang menangis ketakutan memanggil ayahnya yang berdiri di saf paling depan tak mendapat perlindungan, sebab sang imam penguasa masjid sedang murka, dan tak ada yang boleh menghentikannya. Kaki kiri Mail ditarik menuju pintu keluar meski meninggalkan tetesan darah segar milik Mail, seorang anak kecil yang baru belajar salat dari kakanya yang telah meninggal seminggu yang lalu.

Haji Lamang melempar tubuh kecil Mail dijalanan dan meninggalkannya dengan bebrapa kali tendangan didadanya.

“dasar anak setan”

Tubuh kecil Mail tergeletak meski sudah tak banyak bergerak. Anak-anak menangis ketakutan. Tak ada yang berani berbicara atau menghentikan perbuatan sang imam, meski ayah Mail sendiri yang menangis diatas karpet saf depan melihat anaknya menangis kesakitan.

Setelah Haji Lamang menarik Mail keluar dari masjid. Ia pun langusng beridir diatas mimbar dan menyalakan pengeras suara.

“Demi Allah, Mulai hari ini saya fatwahkan, anak-anak haram menginjakkan kaki di masjid.

Oleh : Andriadi

Author Profile

Anriadi
Anriadi
Anriadi, seorang anak kampung yang lahir dr tanah Pattae yg subur akan alamnya di Polman. Mahasiswa akhir UNM jurusan Sastra Inggris ini pernah bergelut di organisasi intra n ekstra kampus, sperti UKM LKIMB UNM, IMM, IMDI, Lentera FBS UNM dll. Saat ini beliau sedang menggarap komunitas bahasa inggris di UNM yaitu Orange Engliah Community (ORECOM).
Latest entries
Bagikan Dengan Cinta !
Cerpen, Terbaru
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?