Melapak Bersama “Pakansi Parepare”

Malam Lapakan Parepare, kira-kira demikianlah yang tertulis di gambar ajakan berukuran 1000 piksel yang saya temukan saat menyelusuri ruang narsis Instagram. Saya pun mencoba hadir dan terlibat, terlebih karena saya juga aktif di salah-satu komunitas literasi yang turut bergabung di malam itu.

Malam Parepare dan kerlap-kerlip lampu hias turut bersahaja dengan acara yang terselenggara tepat di Lapangan Andi Makkasau Parepare. Malam Lapakan ini ternyata kegiatan kolektif beberapa komunitas diantaranya, Setapak Parepare yang menggelar buku yang siap baca, Warung Tetangga Sebelah yang menyajikan buku-buku yang diungsikan dari toko bukunya. Oh iya, Warung Tetangga Sebelah adalah salah satu toko buku yang baru saja lounching. Turut terlibat juga Brengsek Store, Queen Socks Pare, dan Lapakan Pinggiran yang sama menyediakan barang jualan seperti Tas totebag, kaos etnik, syal, gelang, emblem, dan aksesoris unik lainnya. Tetapi mataku lama menajam pada salah satu bingkai yang tergambar sketsa wajah, yang ternyata hasil karya seorang gadis yang ahli di bidang drawing, sketch, dan realism yang ternyata turut tudang sibawa, Sri Megawati. “Sumpah dia kreatif beud !”.

BACA !  Mangngacara : Minat Baca Rendah, Bersenanglah !

Ternyata malam itu tercatat sebagai malam lapakan pertama, tepat sabtu 14 Juli 2018. Lapakan yang menyatu dengan rerumputan lapangan menjadi tempat singgah anak-anak yang lalu lalang, atau mereka yang turut berjualan sama dengan kami.

Namanya Andi, salah satu anak yang terlihat asyik bersama buku yang kami gelar. Andi putus sekolah dan kini berjualan jagung rebus di Lapangan Andi Makkasau. Tanpa canggung dan basa-basi, ia meletakkan jualannya dan langsung memilah-milih buku di lapakan, kemudian membacanya. Tak hanya Andi, banyak yang lain juga. Dengan tingkah lucu nan lugu sebagaimana anak-anak pada umumnya, mereka lebih banyak bercerita tentang hari-hari yang mereka lalui. Diantara mereka juga masih belum mampu membaca.

Malam Lapakan larut bersama kegembiraan. Lalu lalang orang-orang di sekitar lapangan pun sudah semakin sedikit. Teman-teman komunitas pun mulai merapihkan barang-barang yang digelar. Tetapi sebelumnya semua teman-teman komunitas yang terlibat kemudian melingkar dan berdiskusi bersama.

BACA !  Selamat Ulang Tahun dan Selamat Dikejar Deadline Koran !

Pakansi Parepare, sebelumnya bernama “Malam Lapakan Parepare”, dan dari hasil diskusi, semua teman-teman yang terlibat sepakat merubah nama menjadi Pakansi Parepare. “Pakansi” sendiri artinya “libur” dalam bahasan Bugis. Selain soal kultural, Ian (Warung Tetangga Sebelah) juga beralasan akan membuka lapakan di sore hari libur.

Pakansi Parepare akan rutin dilaksanakan sekali seminggu, tepatnya pada hari sabtu, dengan tempat yang sama. “Semoga Pakansi Parepare bisa bertahan lama walaupun kedepannya akan ada sedikit kerikil-kerikil jahat, tujuan kita disini memang untuk melapak bersama tidak hanya untuk mencari untung, tapi semoga kita semua bisa saling bertukar ide mulai dari pemasaran atau penjualan serta ide-ide dalam percintaan” Tutup Maman (Brengsek Store), Salah satu penggagas Pakansi Parepare.

Neng Linda

Author Profile

Redaksi Ngemper
Ngemper adalah situs tempat anda berbagi opini dan cerita, kami membebaskan dengan nalar senakal apapun, secabul apapun dan se mesum apapun, ruang ini lah tempat kalian, jangan lupa ngopi dan bahagia !
Bagikan Dengan Cinta !
Komunitas, Mangngacara, Terbaru
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?