Pak Ramli “Si Penceritera”

Jejak-jejak anjing berserak di pasir pantai, bersama hembusan angin menyapa bibir pantai sisa semalam. Pagi kan menua, itu yang terpikir di hari yang terbangunkan oleh kokok ayam jantan yang terdengar dari kampung sebelah. “Sayang yuk bangun, terang pun sudah menyapa”. Pelan kubangunkan Delula.

Malam itu Aku dan Lula berkemah di bibir pantai Karammasan, pantai yang berjarak 20 km dari pusat kota Polewali. Di antara dingin yang menusuk, serta keributan ombak laut selatan yang tiada henti menghempas tumpukan karang yang masih kokoh menghiasi bibir pantai Karammasan.

Setitik cahaya mencuri perhatian kami, cahaya itu semakin lama semakin mendekat bahkan seakan menuju ke arah kami. Tak lama kemudian keributan ombak tertutupi oleh bising suara mesin perahu. Delula berucap pelan dan menatapku dengan tajam, Itu adalah nyala lampu perahu seorang Bapak dan suami yang pulang membawa buah kemenangannya atas keberaniannya menantang maut”. Aku tidak mengerti maksudnya apa, yang Aku tahu cahaya itu semakin mendekat pelan, perahu pun menepi, si empunya turun tanpa melempar jangkar ataupun mengikatkan perahunya pada serabut akar bakau. Ia menghampiri kami dengan senyuman dan menawarkan ikan buah tangkapannya. Kalian sedang liburan ? ini untuk sarapan”

Masih terngiang suasana hening saat bersua dengan Pak Ramli. Bapak tiga orang anak yang sejak berumur 7 tahun sudah melaut. Pak Ramli telah mengusir sepiku semalam. Ia banyak bercerita tentang pengalamannya menjadi seorang nelayan. Pak Ramli tak hanya pandai memancing atau pun menggiring ikan ke arah jaring yang sudah ia pasang sejak waktu senja. Ia pun ahli menutur sebuah cerita, bukan cerita rakyat yang berisikan fiksi, ia banyak bercerita tentang kehidupan yang mengisahkan dua pelakon “si Miskin” dan “si Kaya”.

INTIP TULISAN SEMANTIK LAINNYA : DISINI

Pak Ramli yang terlihat begitu sederhana, ternyata menyimpan mimpi besar di benaknya. Di waktu kecil, Pak Ramli berangan-angan memiliki sebuah pulau indah yang di dalamnya tercipta tatanan masyarakat yang mempunyai hukum sendiri, pemerintahan sendiri, alat produksi sendiri yang dikerjakan secara bersama-sama, dan didistribusikan secara merata sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Di dalamnya tak ada anak tak bersekolah karena tak mampu membayar uang buku atau biaya bulanan, tak ada juga ibu-ibu yang meronta karena kampungnya menjadi tanah gusuran, tak akan terlihat keluarga yang menangis di pojok parkiran rumah sakit dengan mayat anggota keluarganya yang tak tertolong dari sakit hanya karena ia tak memiliki cukup uang untuk berobat, tak akan terdengar juga protes buruh pabrik yang berupah rendah, tak ada petani yang harus minggat ke kota karena sawah dan kebunnya dirampas habis, tak akan ada nelayan yang beralasan “untuk bertahan hidup” tapi harus meninggalkan anak isteri dan menantang maut di lautan hanya karena 2 sampai 3 ekor ikan, di dalamnya pun tak akan terdengar bengisnya senjata yang saling menodongkan antar satu sama lain. “di dalamnya akan terbongkar mitos miskin dan kaya” kata Pak Ramli.

Ia juga bermimpi menjadi seorang kapten sebuah kapal besar, kapal besar yang akan mengangkut orang-orang yang sudah lelah berada di pulau-pulau yang tak seindah pulaunya. Paparnya demikian.

BACA !  Dari Gabut Hingga Status Mesum

Terlukis indah fajar dari ujung laut yang disuguhkan semesta, aku tersenyum dan memandanginya. Ia kemudian pelan berucap, Tapi, setidaknya saya sudah punya perahu sendiri, yang dengan kendaliku akan aku arahkan ke pulau mana pun yang akan aku tuju”. Ia mengacungkan wajahnya ke atas dan tertawa, seolah mendendam dan memendam protes terhadap seisi langit.

Sesekali ia hisap pelan linting tembakau yang terselip di jarinya, kemudian kembali ia melanjut cerita. Pak Ramli menghela nafas, seakan memulai masuk kebagian cerita yang lebih klimaks. Kami termangu, diam, hanyut dan haru seolah tak sabar mendengarkan lanjutan ceritanya.

“Nak, kau ingin mendengar cerita rakyat ?” Tanya Pak Ramli, Iya !” singkat jawabku dan Delula. Walaupun Aku dan Delula sebenarnya tak menyukai hal tersebut. “Ini cerita rakyat, karena kisahnya terjadi dimasa lalu, masa yang sudah sangat lama terlalui. Nak, cerita ini tentang pulau besar, penduduknya banyak sekali, penuh rempah dan kekayaan alam yang kurasa cukup sampai kiamat pun. Pulau itu damai, tenteram walaupun di dalamnya beragam bangsa, ada bangsa Raso yang berkulit hitam, ada bangsa Mhun yang berkulit sawo matang dan ada juga bangsa Manggali yang berkulit putih cerah dan bermata sipit. Di dalamnya pun banyak ajaran spiritual ada yang menghamba pada Patung, pohon, dan gunung, ada pula yang menyembah bulan dan matahari. Mereka damai hanya dengan saling menyapa dan saling menitipkan senyuman.

Sampai tiba masa, saat pulau semakin menua dan semakin menunjukkan kedewasaannya, ia semakin canggih, rumah panggung berubah menjadi gedung-gedung tinggi berdinding kaca, ia mulai memasuki peradaban baru.

Sayangnya itu menjadi mimpi buruk bagi sebagian besar penduduk pulau itu, mereka sengsara, hidup mereka terpuruk. Mirisnya kesengsaraan itu diakibatkan dari sebagian kecil penduduk yang bersifat serakah dan mencoba menguasai semua kekayaan di pulau besar itu. Relasi hidup pun mulai tak terkendali, banyak terjadi krisis kemanusiaan, penyakit menyebar dimana-mana, bangsa-bangsa dan ragam ajaran pun tak luput sebagai pemantik konflik horizontal, hutan-hutan mulai dibabat habis, bencana alam silih berganti, pulau itu semakin menua dan terpuruk. Hingga akhirnya pulau itu pun terpecah menjadi pulau-pulau kecil, tapi pulau-pulau kecil itu pun tak memberikan perubahan bagi kehidupan dan kemaslahatan penduduknya, bahkan sama halnya saat masih menyatu sebagai pulau besar”.

Pak Ramli kembali menghela nafas setelah bercerita, kemudian membakar selinting tembakau lagi untuk mengganti tembakau yang terselip dijarinya karena habis termakan angin pantai.

Nama pulau besar itu apa Pak ?” tanyaku pelan ke Pak Ramli. Ia kemudian tersenyum dan kembali memandangi langit yang sudah semakin cerah, “Pulau besar itu bernama, Indonesia”.

INTIP JUGA LAINNYA : DISINI

Pak Ramli kemudian berdiri, ia mengambil lentera di perahunya. “Nak, Pulau besar itu tak hanya berisikan penduduk yang serakah dan penduduk yang pasrah terhadap hidupnya, di dalam pulau itu masih ada orang-orang yang memimpikan kedamaian seperti masa di awal terciptanya pulau besar itu, dan mereka pun tak hanya bermimpi, mereka berjuang untuk itu. Untuk menyatukan kembali pulau-pulau dan mencipta tatanan yang megah tetapi damai dan tenteram. Karena hal semacam itu pun adalah keniscayaan, yakinilah !” Pak Ramli kemudian beranjak pergi, berlalu menyusuri setapak bukit di belakang kami.

BACA !  Serial Baso & Beddu : Kebaikan Yang Salah Kamar

“Kenapa Bapak lewat situ ? bukankah kampung lebih dekat jika menggunakan perahu berapa meter lagi dan menepi ?” teriakku bertanya. “Nelayan di sini sisa sepuluh orang, salah satunya saya. Banyak yang tak lagi melaut karena kehilangan perahu yang rusak diterpa kemarahan ombak, kemudian memilih merantau ke kota-kota. Lagipula disana sudah tidak ada lagi tepian untuk melabuhkan perahu kami. Tepian di sana akan segera ditimbun, nelayan juga tak diizinkan melintasi daerah yang sudah dibeli oleh “Mereka” dan rumah-rumah warga pesisir pun akan segera digusur, berganti menjadi bangunan-bangunan megah, rumah, hotel, pusat perbelanjaan yang pastinya bukan milik kami, tapi juga milik mereka”. Jawabnya tegas, dan bernada lebih keras karena jarak kami yang sudah berjauhan, belum lagi suara parau dari ombak laut selatan. Aku yang setelah mendengar jawabnya kembali termangu, Pak Ramli kemudian tersenyum, beranjak dan berlalu, kemudian tak terlihat lagi.

Aku kembali duduk dengan mata yang tertuju pada ujung garis pertemuan langit dan laut. Pasir putih pantai Karammasan cukup bersih menjadi alas bagiku untuk duduk bersantai atau pun merebahkan tubuh.

Selain cerita singkat Pak Ramli, ada jutaan tanya yang mulai terbayang di kepalaku tentang pulau, keabadian, petaka, bangsa-bangsa, dan cinta kasih. Ia semakin menghujam, seolah memaksa nalarku bergeliat mencari tahu. Tapi tak satu pun terjawab oleh logikaku.

Di antara waktu yang terus berjalan, Delula menyandarkan kepalanya di pundakku, aku memandanginya, ia juga sama menatapku dengan tajam dan terbangun. Aku merebahkan tubuh, pangkuan Delula sebagai bantalku, aku menutup mata dan masih dengan nalar yang bergeliat mesra dengan tanya-tanya. Pelan Delula mengelus rambut hitamku, ia berucap pelan dengan kehangatannya ;

“Sayang, menjawab teka-teki semesta memang tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi juga tak sesulit membalikkan telapak kaki. Hanya perlu memahami sedikit hal, selebihnya berani, teguh, sabar dan yakin untuk menemukan jawabannya”.

Aku semakin larut dalam gelap pejaman mata, dibalut kehangatan kasih sayang Delula, aku terjaga di waktu pagi menjelang siang.

Idam Bhaskara Desain Grafis Ngemper.com

Author Profile

Idam Bhaskara
Idam Bhaskara
"manusia yang baik adalah manusia yang bertujuan memanusiakan dan memerdekakan diri dan manusia lainnya"
Saya lahir di Polewali, tepatnya di Kanang, Desa Batetangnga pada bulan oktober 1995. Selain menjadi bagian dari orang-orang yang ada dibalik layar Ngemper.com, saya juga aktif menulis di blog pribadi dan situs-situs lainnya. Kini melanjutkan studi di Ibu Kota, di salah-satu Universitas swasta dengan mengambil konsentrasi Hukum Pidana.

Instagram : @frasanalar I Email : fazlulrachmanzain@gmail.com
Bagikan Dengan Cinta !
Cerpen, Terbaru
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?