Ramadhan Merupakan Proletarisasi Umat

Tahun ini umat islam di seluruh dunia menjalani ibadah puasa di bulan ramadhan tepatnya 1439 H, dimana puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan bagi setiap umat islam dimanapun dan kapanpun, terkecuali bagi mereka yang sakit atau berhalangan, itupun diwajibkan bagi mereka yang meninggalkan nya untuk membayar berupa pemberian sebagian hartanya untuk orang-orang miskin atau menggantinya dengan kembali melakukan puasa, diukur dari seberapa banyak orang tersebut meninggalkan nya. Ritual diri itu dilakukan setahun sekali, berdasarkan perhitungan bulan arab, dan beberapa tanda yang merupakan puasa sudah diwajibkan untuk dilaksanakan. Prosesi itu juga dilakukan sebulan penuh bagi laki-laki dewasa (baligh/sudah pernah mengeluarkan sperma) dan dilakukan juga oleh wanita apabila tidak ada halangan (haid/sedang menyusui, yang dimana itu dapat membahayakan dirinya atau anaknya).

INTIP JUGA : “Money Atau Kesejahteraan”

Puasa ramadhan juga dapat dikatakan proletarisasi umat, dimana setiap umat diwajibkan untuk melakukan puasa atau menahan haus dan lapar seperti golongan orang tak mampu dan miskin lain nya, yang di alami di kehidupan sehari-harinya. Tidak hanya itu, setiap orang yang menjalaninya juga di anjurkan untuk menambah porsi ibadahnya selama bulan ramadhan berlangsung, baik itu kewajiban sehari-hari seperti sholat maupun membaca al Qur’an serta maknanya dan bersedekah maupun kegiatan-kegiatan lainnya. Didalam melaksanakan puasa setiap orang harus menjaga hawa nafsu nya, agar tidak menggunakan kuasa atas diri dan kemampuan nya ke hal-hal negatif, guna pencapaian Rahmatan lil alamin, dan pemberlakuan ini tidak mengenal strata sosial, seperti yang terbentuk di masyarakat hari ini, yang dimana tinggi rendahnya strata sosial itu diukur dari kemampuan finansial nya.

INTIP LAINNYA : DISINI

BACA !  CHANGE

Dan melihat kondisi hari, dimana sebagian orang yang menguasai alat-alat produksi atas golongan masyarakat lain nya, dan berdasarkan salah satu sumber media mainstream (liputan6.com/5 april 2016) menunjukkan bahwa harta kekayaan empat orang terkaya di Indonesia setara bahkan lebih dari seratus juta rakyat miskin di indonesia. Ini diperparah dengan kebijakan politik yang masih terus melanggengkan pemonopolian  kekayaan alam dan sektor-sektor lain nya. Lantas  apakah ini masih kita sebut arah keagamaan yang Rahmatan lil alamin, sementara kejadian-kejadian nyata di depan kita terabaikan. Atau keyakinan ini hanya slogan yang terpampang di dinding-dinding tanpa makna, dan seonggok buku-buku tanpa arti yang sebenarnya dalam penerapannya ini semua jauh apa yang di inginkan dan cita-citakan.

Dan di bulan Ramadhan kali ini, apakah umat yang mendaku diri Rahmatan lil alamin hanya diam dan bungkam atas apa yang terjadi di negeri ini dengan melihat carut-marutnya yang tidak ada habisnya?…atau terus menunggu sampai sistem busuk ini juga melindas siapapun hingga mengakibatkan kemudharatan dan penderitaaan. Layak dipertanyakan keagamaan nya, apakah terus bungkam atau merubah titik dimana umat beragama bangkit dan melawan sitem yang menyeng sarakan ini.

Ipang Sentosa

Author Profile

Redaksi Ngemper
Ngemper adalah situs tempat anda berbagi opini dan cerita, kami membebaskan dengan nalar senakal apapun, secabul apapun dan se mesum apapun, ruang ini lah tempat kalian, jangan lupa ngopi dan bahagia !
Latest entries
BACA !  Tanya Mamah Novi : Hukum Donor darah Saat Puasa ?
Bagikan Dengan Cinta !
Terbaru
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?