Serial Baso & Beddu : Level-level Puasa

Sore hari menjelang berbuka. Di balik bilik pos ronda, Baso dan Beddu sedang sibuk bertarung di atas meja catur.  Memang, kerap keduanya terlihat di sana. Bahkan jauh hari sebelum ramadhan tiba.

Menurut mereka, catur adalah pilihan tepat untuk membunuh waktu saat berpuasa. Selain latihan adu strategi, ternyata mengasah keahlian dalam menundukkan pandangan juga alasannya. Mengasah otak, sekaligus hati. Tapi yang namanya catur, pandangan tentu mengarah ke bawah, kecuali papannya diletakkan di atas langit-langit rumah.

Namun, di tengah keseruannya, Siti, si bunga komplek yang baru mekar, tetiba melintas. Melihat penampakan sosok indah di depannya, tak ingin mata Baso mengacuhkan. Sedetikpun matanya dibuat tak berkedip. Ia lupa kalau permainan catur yang rutin dijalaninya juga ditujukan agar pandangannya tidak liar kemana-mana, terutama saat berpuasa seperti sekarang ini.

Selaku lelaki yang berhasrat pada lawan jenis, justru ia sengaja menenggelamkan diri,  menikmati irama pinggul Siti yang bergoyang naik turun saat berjalan.

“Sayang jika momen itu tak diberi perhatian,” pikirnya.

Kunjungan Siti sore itu, hendak membeli takjil di warung sederhana milik Bu Ija. Takjil yang tentu diperuntukkan saat berbuka nanti. Selama ia berbelanja, selama itu pula Baso teralihkan. Imajinasinya melayang entah kemana. Namun tentu, objek fantasinya adalah gadis itu sendiri.

“Woi, jalan woi,” tegur Beddu yang lelah menunggu langkah Baso. “Niat main kah?”

“Sorry sappo, ada pemandangan langka.”

“Pemandangan?” Beddu menolehkan muka ke kiri dan ke kanan, mencari tahu apa yang dimaksudkan karibnya itu.”Oh, maksudmu Siti?”

“Siapa lagi, masa Bu Ija? Sudah bau minyak gosok kali.”

“Haha.. sappo.. sappo,” tawa Beddu. “Kau ada rokok?”

“Iya, ini dua batang,” sembari menunjukkan rokok yang ada di kantongnya,   “persiapan buka nanti.”

“Tidak usah tunggu berbuka, hisap sekarang saja.”

“Kau kira saya tidak puasa? kau kan tahu saya belum makan apa-apa semenjak imsak.”

“Memberi makan perutmu sih belum, tapi sepertinya matamu sudah kenyang.”

“Maksudnya?”

“Kau pikir cuma makan dan minum saja yang bisa membatalkan puasa?”

“Tentu tidaklah, semua jenis nafsu boleh saja membatalkannya. Makanya ini kita latihan.”

“Itu kamu pintar. Tapi, kenapa yang kau tunjukkan malah sebaliknya. Saya berani menduga jika yang kau puasakan hanya sebatas lidah dan kelaminmu saja.”

“Memang apa yang saya lakukan?”

“Kau luput dengan matamu sappo. Dari tadi kau biarkan ia menatap buas ke arah Siti.”

“Jangan salah sangka dulu sappo. Saya hanya mengagumi keindahan makhluk-Nya,” katanya membela diri. “Apa salah mengagumi seorang wanita?”

“Salah sih tidak,  hanya saja yang kau lakukan bukan sedang mengaguminya, melainkan malah melecehkannya.”

BACA !  Money atau Kesejahteraan

“Melecehkan bagaimana? Masa iya saya berbuat senonoh itu sappo.”

“Memang tidak lansung kau menyentuh fisiknya, namun kau melecehkannya dalam imajinasimu. Kau menghayalkannya yang bukan-bukan.”

“Sayang saja kalau pemandangan serupa itu tidak dihiraukan. Mubazir jadinya.”

Intip Juga, “Serial Baso & Beddua : Anjing Tidak Terlahir Hina”

“Katamu kau sedang puasa, seharusnya ada upaya menahan. Lagipula ia tidak halal bagi kita. Sekalipun halal, itu juga dilarang. Sebab, masih diluar ketentuan-Nya. Apa kau lupa kata Pak Imam saat di pengajian ba’da Shubuh di masjid kemarin?”

“Haha.. saya ketiduran sappo.”

“Waduh, itu juga masalahnya. Andai saja kau dengar apa kata Pak Imam, tentu kau akan tahu sedang di level mana puasa yang sementara kau jalankan ini.”

“Memang puasa pake level? Seperti game saja.”

“Seperti penuturan Pak Imam kemarin, dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengkategorikan puasa dalam tiga tingkatan.”

“Apa saja?”

“Puasanya golongan awam (shawm al-‘umuum), puasanya kaum beriman (shawm al-khushuush), dan puasanya para Awliya’ atau kekasih-Nya (shawm khushuush al-khushuush).”

“Kita berada di golongan yang mana?”

“Bahkan pada tingkatan awam pun, belum tentu kita mampu sappo.”

“Wah, saya kira sudah di golongan kedua. Kita kan termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang beriman?”

“Haha.. ada kalanya percaya diri itu tidak baik, apalagi sampai over. Boleh saja kita mengaku beriman. Tapi apakah yang dipraktikkan betul begitu?”

“Katanya meyakini itu berarti mengimani. Syariatnya juga rutin kita jalankan. Lantas mengapa masih saja kita tidak tergolong hamba-Nya yang beriman?”

“Keimanan itu terlihat dari apa yang kau sajikan buat sekelilingmu bukan semata-mata karena pengakuan. Tidak perlu susah-susah menampilkan keshalehan hanya untuk mengabarkan kualitas keimanan agar terakui, sebab ibadah bukan untuk dipertontonkan. Itu letaknya di dapur. Sebaiknya sifatnya sunyi dan hanya dipersembahkan kepada-Nya,” terang Beddu. “Nah matamu sendiri masih jelalatan begitu, bagaimana kau dengan angkuh mengaku berpuasa seperti puasanya orang-orang beriman?”

Inti Juga, “Serial Baso & Beddu : Kebaikan Yang Salah Kamar”

“Hakikat puasa itu adalah taqwa (Laallakum Tattaquun). Sederhananya, para jumhur ulama menyepakati defenisi  taqwa adalah melakoni amanah-Nya serta menghindari apa yang Dia larang. Untuk hal ini kita belum mampu konsisten sappo.”

“Di antara kita, masih sangat banyak yang menjalankan puasa pada tingkatan awam ini, bahkan di bawahnya lagi. Berlelah puasa tapi yang diperoleh sebatas derita akibat perut keroncongan dan tenggorokan kering belaka. Olehnya itu, sungguh tidaklah mengherankan jika banyak dari kita yang mengaku berpuasa akan terlihat rakus saat berbuka.”

“Semestinya bagaimana sappo?”

BACA !  Mahasiswa: Antara Ilusi dan Industrialisasi

“Paling minimnya, sebaiknya kita ikhtiarkan berada pada level puasa yang kedua.”

“Caranya?”

“Mempuasakan segala indera yang dzahir maupun bathin. Menahan mata sekaligus penglihatannya. Menahan telinga sekaligus pendengarannya, menahan hidung, lidah, dan lain-lain dari segala yang membatalkannya. Pendeknya, seperti menahan dari hal yang kau lakukan terhadap Siti.”

“Berat juga yah ternyata.”

Baca Serial Baso & Beddu Lainnya Disini

“Justru karena beratlah, maka puasa itu diwajibkan. Sebab, jika ringan dan kau suka, lalu apa guna diwajibkan? Meski tanpa perintah, bakal kau kerja sendiri nantinya.”

“Lalu bagaimana gambaran puasa para kekasih-Nya?”

“Praktiknya sama dengan mereka yang berada pada level kedua. Hanya saja ditambah dengan kebiasaan melafalkan Asma-Nya. Bibir dan hati mereka terus mengucap dzikir, tak dibiarkannya alpa dan lalai. Aktivitas apapun yang mereka tengah jalankan, senantiasa melibatkan Sang Maha di dalamnya. Kalaupun sekiranya mereka terlupa, segera diucapnya ketika kembali teringat. Rutinitas spiritual itu dijadikan sebagi alarm agar mereka tidak melenceng dari jalur. Hal yang tentu sangat sukar bahkan untuk dibayangkan oleh hamba karbitan macam kita ini.”

Pas saat sedang asyik-asyiknya Beddu menuturkan petuah, Siti kembali melintas. Gadis itu hendak bertolak pulang rupanya. Ia pun menghentikan mulutnya berceloteh, lalu menegur gadis itu.

“Singgah, ndi”

“Eh, daeng Beddu. Ada daeng Baso juga,” kata Siti dengan ramah sambil menunjukkan senyum manis miliknya. “Maaf daeng, saya sudah di tunggu di rumah.”

“Oh, sebenarnya itu juga hanya tawaran basa-basi ndi’. Saya sekedar mau menyampaikan kalau tadi Baso khusyuk memperhatikanmu. Menurutnya kau indah untuk dipandang, terlebih lagi jika dikhayalkan.”

Sontak saja Baso kaget mendengar apa yang disampaikan sahabatnya itu kepada Siti.

“Tai Beke, mulutmu jujur sekali sappo.”

Baso salah tingkah dibuatnya. Sementara itu, Siti berlalu tanpa meninggalkan kata. Pipinya merona menahan malu. Namanya juga perempuan, akan tersipu ketika digoda. Sekalipun yang disampaikan terkadang mengada-ngada. Tapi boleh jadi itu bukan kebenaran, hanya sebatas dzan, berdasar pada pengalaman-pengalaman yang pernah diperoleh.

Abdurrahman Abdullah / Kangur

Author Profile

Redaksi Ngemper
Ngemper adalah situs tempat anda berbagi opini dan cerita, kami membebaskan dengan nalar senakal apapun, secabul apapun dan se mesum apapun, ruang ini lah tempat kalian, jangan lupa ngopi dan bahagia !
Bagikan Dengan Cinta !
Serial Baso & Beddu, Terbaru
×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?