Kamrud Kam

Kamaruddin, ada yang mengatakan kalau nama itu sudah ketinggalan jaman, katanya nama kamaruddin itu nama orang tua, agak risih sebenarnya mendengar guman orang sekelilingku, tapi untuk memotivasi diri kadang aku melawan guman orang tersebut dengan sedikit candaan yang kadang didalamnya ada sedikit emosi, saya pernah berkata seperti ini kepada sahabat saya “saya bersukur kalau orang lain mengatakan nama saya itu nama orang dulu, ternyata nama saya adalah bagian dari sejarah sebelum saya di lahirkan, bayangkan saja belum lahir saja saya sudah tercatat dalam sejarah walaupun hanya nama” sambil tertawa.

Dan akhirnya kini teman teman sejawat ku memanggil dengan nama kama, yah saya sih terima saja soalnya saya adalah tipe orang yang tidak ingin ambil pusing tapi disamping itu saya juga sangat peduli (versi sahabat saya) , saya terlahir dari sepasang kekasih yang di ridhoi sang pencipta di suatu desa yang begitu damai, desa yang jauh dari aroma politik ataupun suara-suara janji kebohongan, jika saya menceritakan desa dimana aku di besarkan ingin rasanya langsung pulang dan menikmati suasana damai itu, tahun 2013 pendidikan memisahkan saya dengan kedua sosok pahlawan dalam hidup saya.

Karena pendidikan itu saya harus keluar provinsi untuk mengemban amanah dan belajar, oia kampung saya terletak di sulawesi barat kabupaten polman. Kini saya berada di sulawesi selatan tepatnya di kota parepare, katanya kota parepare adalah kota pendidikan, saya melanjutkan studi di Universitas muhammadiyah parepare.

Dikampus saya juga aktif di beberapa ormawa dan ada juga komunitas, waktu SMK saya sangat benci dengan organisasi saya menganggap kalau itu semua buang buang waktu, maklum itu adalah masa indah dengan sejuta jiwa hedonis, namun akhirnya aku tersadar bahwa mahasiswa harus berorganisasi, mengenai hobi selain olahraga saya juga hobi mengoleksi buku terutama buku jadul, berharap kedepannya saya bisa membuat perpustakaan pribadi.

×
Hallo Ngemperian !
Ada yang bisa kami bantu ?